Film 2012 yang tengah beredar di bioskop-bioskop dunia adalah film fiksi ilmiah (science fiction). Ia bukan film teologi atau film tentang agama. Film 2012 mendapat sambutan yang sangat meriah bukan semata karena film itu terkait dengan isu hari kiamat yang diramalkan bakal terjadi pada 2012, melainkan karena ia adalah sebuah film bagus yang penuh dengan adegan memukau. Ada banyak film tentang hari kiamat (the doomsday), tapi tak banyak yang mendapat perhatian sebesar film 2012.

Faktor utama yang membuat film itu ditunggu banyak orang adalah karena film itu dibuat oleh sutradara kondang spesialis film-film “bencana kolosal”. Orang yang pernah menonton film Independence Day (1996) dan The Day After Tomorrow (2004), pastilah akan selalu penasaran bila ingin menonton film-film besutan Roland Emmerich yang lain. Ada beberapa film dokumenter dan semidokumenter yang mengangkat tema 2012, tapi tak ada yang dapat mengungguli karya Emmerich itu.

Roland Emmerich memang dianugerahi Tuhan kepiawaian dalam membuat film-film fiksi ilmiah. Bakatnya sudah muncul sejak ia menjadi mahasiswa di University of Television and Film Munich, Jerman. Karya filmnya, The Noah’s Ark Principle (1981) sebagai persyaratan lulus dari universitas itu, mendapat pujian banyak orang. Film berdurasi 1,5 jam itu diputar dalam Berlin International Film Festival pada 1984. Ketika teman-temannya hanya mampu mengumpulkan uang 20 ribu dolar AS untuk mendanai film persyaratan lulus yang diwajibkan universitas, dia malah mampu meraih 600 ribu dolar AS. Sejak awal, Emmerich seperti sudah dijodohkan dengan uang.

Hal itu juga dibuktikannya dalam film 2012. Dalam waktu 3 hari, filmnya sudah meraup uang menutupi modal pembuatannya. Film berbiaya 260 juta dolar AS itu langsung menguasai daftar film-film box office. Tak diragukan lagi, film 2012 bakal menjadi mesin uang baru yang semakin melambungkan nama dan kekayaan Emmerich. Dia tahu betul bagaimana mencetak uang lewat film fiksi ilmiah. Dia memang menoreh sedikit kontroversi, tapi ia juga menahan kontroversi yang berlebihan.

Salah satunya adalah keengganannya untuk membuat adegan hancurnya Kakbah di Mekah dalam film 2012. Semula, dalam naskah skenario aslinya, ada adegan bahwa Vatikan, kuil Buddha, patung Maria, Kakbah, dan simbol-simbol suci agama dunia digambarkan hancur-lebur ditelan bumi yang tengah murka. Tapi beberapa kolega Emmerich memberi nasihat bahwa umat Islam pasti akan terpancing kalau Kakbah mereka ikut dihancurkan dalam film itu.

Emmerich tak mau mengambil risiko dituduh telah menyakiti dari para penganut agama yang memang punya preseden mudah mengamuk jika simbol-simbol agama mereka disentuh. Emmerich memilih berkompromi: menampilkan Kakbah dan kaum muslim yang mengelilinginya sebelum adegan peristiwa kiamat datang. Cinematografi yang cerdas!

Meski Emmerich sudah berhati-hati menyikapi agama ini, tetap saja muncul sejumlah reaksi. Tapi, di Indonesia, reaksi awal datang dari MUI Malang, yang memberikan komentar dan merasa waswas dengan film itu. MUI Malang bahkan mengeluarkan fatwa agar umat Islam tidak menonton film 2012. Alasannya karena musyrik. Begitu pula respons dari Front Pembela Islam (FPI) yang ikut mengeluarkan pernyataan akan men-sweeping bioskop-bioskop yang memutar film itu. Walaupun ada reaksi seperti itu, banyak para tokoh agama sadar bahwa itu adalah film fiksi ilmiah dan tak layak dikomentari secara agama. Kearifan seperti ini yang diharapkan yang terjadi di kalangan tokoh agama di provinsi Lampung.

Fatwa MUI Malang dan ancaman FPI adalah promosi gratis bagi 2012. Alih-alih mengurangi jumlah orang untuk menonton film itu, reaksi mereka malah mengundang orang untuk menyaksikan film itu. Apalagi kalau bukan karena penasaran? Kaidah ini selalu benar: setiap kali ada sebuah buku atau film dilarang, setiap kali pula orang penasaran untuk membaca atau menontonnya. Pelarangan telah menjadi semacam marketing mix untuk kategori buku atau film.

2012 adalah film fiksi ilmiah, dan bukan film tentang agama. Siapa saja yang pernah belajar sedikit biologi, sedikit fisika, dan sedikit astronomi, pasti tidak susah memahami kalau 2012 adalah film tentang bencana alam, dan bukan tentang eskatologi (ajaran tentang akhir zaman dalam studi teologi). Seluruh adegan bencana dalam film itu bisa dijelaskan secara ilmiah, setidaknya dalam ruang fiksi-ilmiah. Emmerich tidak pernah berpretensi memasukkan Tuhan di dalamnya karena sains sudah lebih dari cukup menjelaskan semua peristiwa alam.

Emmerich seperti memiliki “mata para nabi” yang menangkap visi tentang bencana kolosal. Hanya dia yang mampu menghadirkan wahana luar angkasa berukuran raksasa di luar imaginasi kita, seperti dalam Independence Day: hanya dia yang mampu memindahkan kutub utara ke New York, Boston, dan kota-kota besar dunia lainnya, seperti dalam The Day After Tomorrow. Kita bersyukur karena Emmerich membantu imaginasi kita membayangkan kerusakan dunia seperti dalam 2012.

Saya menonton film 2012 bersama anak perempuan saya yang baru berusia 7 tahun. Dia sangat menyukai film itu karena asyik sebagai sebuah tontonan. “Menakutkan, tapi seru,” ujarnya. Dia mengkaitkan film itu dengan akhir dunia, tapi lebih suka memilih penjelasan sains. Dia bertanya, apakah dimungkinkan jika bumi hancur berkeping-keping, masih ada planet yang lain? Apakah ada kemungkinan jika tata surya hancur, masih ada miliaran bintang lain yang 10 persennya memiliki kemungkinan kehidupan seperti di bumi?

Tiba-tiba saya ingat percakapan dengan seorang sahabat tentang perdebatan post-humous antara Al Ghazali dan Ibn Rushd, dua filsuf besar muslim, tentang dunia. Kata Al Ghazali, dunia tidak abadi. Jika kiamat datang, seluruh isi dunia akan hancur dan itulah akhir dari seluruh kehidupan. Ibn Rushd pun pernah menyanggah. Menurutnya, alam raya bersifat eternal, ia abadi, seperti abadinya Tuhan. Jika ada kiamat, itu adalah kiamat lokal, di bumi, di Mars, di Jupiter, di Saturnus, dan seterusnya.

Lewat filmnya itu, teman saya itu, mau mengatakan bahwa Emmerich seraya ingin mendukung pandangan Ibn Rushd, bahwa seandainya ramalan Suku Maya benar bahwa kiamat akan terjadi pada 2012, itu adalah kiamat lokal yang hanya memorak-morandakan bumi. Adapun alam raya akan tetap eksis, ada terus menerus untuk waktu yang tak terhingga.

Saya ingat cukilan kitab Wahyu, yang dikutip dari kitab Yesaya 65:17: “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” Ungkapan Wahyu tentang langit baru dan bumi baru adalah bahasa simbolis yang menunjuk karya Ilahi yang sedang dan akan menyelamatkan dunia dari angkara murka. Kiamat tidak berarti Tuhan akan datang untuk menghancurkan bumi karena menciptakan bumi ini dan Ia berkenan untuk memeliharanya. Yang akan dibinasakan adalah perbuatan dosa manusia.

Karena itu, manusia tidak harus merusak bumi dengan alasan bahwa toh nanti bumi akan hancur juga pada hari kiamat. Itu adalah tafsir para perusak lingkungan hidup. Dalam teks Wahyu, langit pertama dan bumi pertama telah berlalu dan ayat-ayat selanjutnya adalah penyelamatan, di mana Tuhan akan menghapus air mata, perkabungan dan kematian (Why. 21:4). Teks ini mendorong siapa saja untuk memelihara ciptaan-Nya agar jangan sampai bumi kita ini menjadi hancur di tangan manusia sendiri.

Dan Emmerich, menolong kita bukan hanya membayangkan bagaimana kerusakan itu, tapi melihatnya dengan bantuan special effect yang luar biasa. Tapi, 2012 tetaplah sebuah produk budaya popular ala Holywood, saat yang kontroversial diolah secara kreatif.

By. Budiman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s