Posted in Others

Semakin Dikejar, Semakin Terperangkap


Semakin Dikejar, Semakin TerperangkapEntah karena profesi, entah karena panggilan hidup, sudah menjadi warna dominan hidup saya harus dihadang oleh keluhan-keluhan orang setiap harinya. Terutama melalui e-mail, tiada hari tanpa surat dengan keluhan hidup. Ada yang hati isterinya diambil orang. Ada yang hidupnya berputar dalam mangkok kecil yang sama. Ada yang dibuat pusing oleh pacar yang tidak setia, boss yang hanya berkomentar kalau salah, rezeki yang tidak pernah cukup.

Maka, jadilah hari-hari saya ketika membuka e-mail, seperti hari yang harus menyirami tanaman kering kerontang. Ada semacam keharusan agar saya tidak kekurangan air. Untuk itulah, maka di tengah kesibukan yang amat tinggi sekalipun, selalu saja memaksa diri untuk membaca, mendengarkan cassette, atau malah menonton tv atau vcd sebagai sumber air inspirasi.

Di tengah keharusan untuk tidak boleh kering ini, saya bertemu dengan karya Randy Komisar yang berjudul The Monk And The Riddle : The education of A Silicon Valley Entrepreneur . Penyajian ide mendasar melalui gaya novel ini, awalnya memang kurang menarik. Terkesan dangkal dan datar. Namun, begitu diselami pelan-pelan, dia mengandung ajaran yang mendasar.

Bayangan pertama saya tentang pendidikan kaum wira usaha di lembah Silicon, tentu saja mencakup orang yang berfikir dan bekerja serba cepat. Tidak ada kaidah biar lambat asal selamat.

Ternyata saya keliru besar. Randy Komisar yang di AS disebut sebagai virtual CEO yang telah membantu banyak perusahaan di lembah Silicon untuk bangkit, dan oleh Washington Post disebut sebagai kombinasi antara trouble shooter, professional mentor, minister without portfolio, in your-face mentor dan door opener, ternyata jauh dari ciri-ciri serba cepat. Coba perhatikan bagaimana dia menyimpulkan langkah-langkahnya sampai disebut berhasil. Dalam epilog buku di atas, Komisar menulis : ‘When all is said and done, the journey is the reward’. Ketika semuanya sudah dikatakan dan dilakukan, perjalananlah hadiahnya.

Prinsip terakhir tidak hanya dia cantumkan di epilog. Dalam prolog yang bertutur tentang teka-teki seorang rahib Buda di Burma, dia juga menggarisbawahi hal yang serupa. Setelah dibuat pusing oleh perjalanan panjang (lebih dari 150 km) menaiki sepeda motor sambil membonceng seorang rahib Buda, dia dihadapkan pada kewajiban harus kembali memulangkan rahib tadi ke tempat semula. Dia memang frustrasi sebentar, dan akhirnya menyimpulkan : ‘When I first left Mount Popa, I wanted nothing more than to get to my destination, but now I don’t have the slightest desire for this trip to end’.

Setelah dicermati dan dimengerti secara lebih mendalam, manusia-manusia kering yang saya sebutkan di awal tulisan ini, dan juga pengalaman saya dulu ketika masih sangat muda, amat dan teramat terang ditandai oleh sifat buru-buru untuk segera sampai di tempat tujuan. Saya pernah menyetir mobil dari Jakarta ke Bali bolak-balik seperti orang yang dikejar maling. Padahal, sesampai di tujuan, tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Mirip dengan banyak orang yang mengatakan, saya akan menikmati hidup kalau anak-anak sudah bekerja. Saya akan mengurangi belajar dan bekerja keras kalau sudah lulus sekolah. Saya akan hidup tenang kalau sudah punya rumah yang luas tanahnya paling tidak seribu meter, dan sejenisnya. Maka jadilah kehidupan seperti berkejaran dengan bayangan. Dikejar terus, dan diapun lari senantiasa mendahului kita. Persis seperti salah satu judl film ‘kejar daku kau kutangkap’. Kita mengejar kehidupan, dan kehidupan kemudian memerangkap kita.

Dalam pilosopi Zen, ada keyakinan yang menyebutkan, berhentilah berjalan, dan Andapun sampai di tempat tujuan. Ketika tulisan ini sedang dibuat, saya masih memiliki banyak hal yang belum dicapai. Anak-anak masih kecil, karir masih dalam perjalanan jauh, orang tua masih memerlukan perhatian banyak, permasalahan di kantor masih menunggu. Akan tetapi, kalau menunggu sampai semuanya selesai, akankah saya sampai di tujuan ?

Seorang guru meditasi pernah ditanya oleh muridnya tentang pencerahan. Jawabannya ternyata amat sederhana : ketika menarik nafas, sadarilah kalau Anda sedang menarik nafas. Tatkala membuang nafas, nikmatilah aliran udara keluar. Ini berarti, siapa saja yang hidup sepenuhnya dalam kekinian – plus rasa syukur yang mendalam, serta keyakinan bahwa semuanya telah, sedang dan akan berjalan baik – dia sebenarnya sudah tercerahkan !.

Terdengar mudah dan sederhana. Dan dia menjadi amat sulit dan rumit kalau kita membiarkan diri berlari terus ke tempat tujuan. Lupa bahwa hari ini, di tempat ini, dengan badan yang ini, plus jumlah rezeki hari ini, juga menghadirkan ‘tujuan-tujuan’ besar yang tidak kalah menariknya. Dan kalau kita menghabiskan semua waktu untuk berlari, tidak hanya lelah dan capek hasilnya, tetapi juga kehilangan sense of direction. Inilah akar dari kehidupan banyak orang yang tandus dan kering.

Salah satu bab buku Randy Komisar di atas berjudul amat atraktif : ‘the romance, not the finance’. Romantika, bukan harta. Nah, kalau orang seberhasil Randy Komisar – yang bergelimang keberhasilan di daerah paling kapitalis di AS seperti Lembah Silicon – saja berpetuah seperti itu, akankah kita membiarkan diri kita terperangkap ? (Gede Prama)

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s