Posted in Education

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF


Dalam psikologi terdapat berbagai macam pendekatan yang digunakan dalam menelaah manusia sebagai objek kajiannya. Diantaranya pendekatan atau teori besar yang sering kita dengar yaitu Psikoanalisa, Behavior, dan Humanistik. Ketiga aliran besar tersebut bila kita telaah, mempunyai pandangan yang mendasar tentang manusia. Pandangan dasar inilah yang kemudian menjadikan pendekatan yang digunakan sangat berbeda.

Psikoanalisa, yang diperkenalkan oleh Sigmund Frued, berpandangan bahwasanya manusia merupakan makhluk yang mempunyai naluri atau insting yang selalu menuntut untuk dipenuhi. Dari sini aliran ini berpandangan bahwasanya manusia berpliku atas dasar prinsip kenikmatan. Psikoanalisa berpandangan bahwasanya dorongan naluri harus segera dipenuhi. Ketika naluri ini tidak terpuaskan, maka akan menyebabkan gangguan-gangguan yang bersifat psikologis. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwasanya psikoanalis memandang bahwa manusia pada dasarnya buruk dan selalu berorientasi pada prinsip kenikmatan.

Behavior merupakan aliran psikologi yang berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang bersifat tabula rasa. Manusia pada hakikatnya layaknya sebuah kertas kosong yang kemudian pengalam demi pengalamanlah yang membentuk manusia menjadi seseorang yang berkepribadian seperti saat ini.

Humanistik berpandangan manusia pada hakikatnya mempunyia potensi yang posoitif. Diantaranya manusia memiliki kesadaran, keinginan untuk berbuat baik, hati naruni dan patensi-potenai luhur lainnya. Potensi-potensi ini merupakan potensi yang khas yang hanya dimiliki oleh manusia.

Ketika kita ingin menggagas sebuah konsep Psikologi Islam, sewajarnya kita membahas konsep manusia menurut Islam. Karena hal ini akan menjadi landasan dasar bagi konsep yang lebih besar.

Pada bahasan ini, saya mencoba mengulas pandangan Islam mengenai manusia berdasarkan buku H. D. Bastaman, Integrasi Psiklogi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami.

Islam Memandang Manusia

Berkenaan dengan hal ini Bastaman mengaitkan dengan relasi manusia dangan pencipta dan makhluk lainnya. Dimana hal ini mempunyai implikasi positif  dan negatif, yaitu:

–          Hubungan manusia dengan dirinya sendiri yang ditandai oleh kesadaran untuk melakukan amal makruf nahi mungkar (S.3:10) atau sebaliknya mengumbar nafsu-nafsu rendah (S.38: 6;S.45:23).

–          Hubungan antar manusia dengan usaha silaturahmi (S.4:1) atau memutuskannya (S.12: 100).

–          Hubungan manusia dangan sang pencipta dengan kewajiban ibadah  (S.51:56) kepadanNya atau menjadi ingkar atau syirik ((S.4:48).

–          Hubungan manusa dengan alam sekitar yang ditandai dengan upaya pelestarian (S.11:6) atau mencemari dan merusak lingkuangan (S.30:41).

Selain itu Bastaman juga memberikan dan mengutip ayat-ayat berkenaan dengan manusia diantaranya: manusia memiliki akal untuk memahami keagungan Allah (S.22:46); nafsu yang paling rendah (S. 12:53) hingga  yang paling tinggi (S.89: 27-30).

Dari seorang tokoh yang tidak diragukan komitmennya terhadap Islam, Bastaman memaparkan konsep manusia menurut al-Ghazali dimana ajarannya cukup berpegang teguh pada Islam.

Dalam Ihya Ulumuddin,al-Ghazali membahas empat struktur utama keruhanian manusia, yakni Kalbu (al-Qalb), Ruh (al-Ruh), Akal(al-Alq) dan Nafsu (al-Nafs). Menurut al-Ghazali keempat struktur ini masing-masing memiliki dua arti, yakni jasmaniah dan ruhaniah.

Kalbu dalam artian fisik diartikan sebuah benda yang terletak  dalam rongga dada sebelah kiri yang dimiliki oleh hewan ataupun manusia. Sendangkan dalam arti ruhaniah, kalbu merupakan sesuatu yang dapat mengenal dan mengetahui segalanya, serta menjadi hukuman,cela  dan tuntutan dari Allah. Demikian pula gambaran mengenai ketiga unsur yang lain yang mengandung unsur mental-psikologis, fisik biologis dan spiritual-relegius. Dalam artian metafisik keempat unsur tadi mempunyai makna yang sama dimana bersifat ruhaniah, suci, mampu mengenali dan memahami sesuatu.    

Selain itu al-Ghazali mengajukan aspek kejiwaan dan daya-dayanya. Berkenaan dengan hal ini tampaknya pandangannya tidak jauh berbeda dengan pemikir zamannya dan filosof sebelum beliau. Daya-daya tersebut yaitu dimensi ragawi, dimensi nabati, dimensi hewani dan dimensi insani. Penjelasan ini saya kira juga tidak jauh berbeda dengan konsep pemikir lainnya.

Tipologi Kualitas-kualitas Insani

Penggolongan Nafsu manusia:

–          Nafsu amarah: mengumbar dan tunduk sepenuhnya terhadap hasrat-hasrat rendah.

–          Nafsu lawamah: dalam diri telah berkembang keingingan untuk berbuat baik, dan menyesal apabila berbuat kesalahan.

–          Nafsu mutmainah: jiwa yang suci, lembut dan tenang, yang diundangnya dengan penuh keridhan.

Penggolongan manusia berdasarkan hatinya yang tertuju pada tuhan atau kepada mausia:

–          manusia yang semat-mata hatinya tertuju pada dunia;

–          manusia yang hatinya lebih tertuju pada manusia daripada pada agama;

–          manusia yang hatinya lebih cendrung kepada agama daripada dunia;

–          manusia  yang hatinya tenggelam dalam zikrullah.

Penggolongan daya pengenalan manusia:

–          pengenalan melalui pancaindra;

–          melalui pertimbangan;

–          pengenalan melalui akal; dan

pengenalan melalui nur kenabian.

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

2 thoughts on “MANUSIA DALAM PERSPEKTIF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s