C. Struktur Jiwa/Nafs Menurut Al Ghazali

Dalam kitab Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Jiwa) yang disarikan dari kitab Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali oleh Syeikh Said Hawwa, digolongkan bahwa jiwa/nafsu ada tiga:

1. Jiwa Amaratun bi suu’: yakni jiwa yang senantiasa berbuat dosa, melakukan hal-hal yang tidak produktif dan/atau selalu berpikir negatif. Orang seperti ini cenderung memikirkan sesuatu dan/atau mengerjakan sesuatu hal hanya untuk bermaksiat (zina, mabuk, mencuri, dsb).

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan (amaratun bi suu’), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 12:53).

2. Jiwa Lawamah: yakni jiwa yang tidak stabil. Dalam Qur’an Allah berfirman tentang adanya jiwa Lawamah ini,

Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah pada jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)…” (QS 75:1-2)

Seseorang dalam kategori ini kadang sebenarnya jiwanya baik, atau imannya cukup baik. Tapi karena dorongan/keinginan syahwatnya juga besar, sehingga tidak dapat dikendalikan oleh iman dan akhlaknya, akhirnya sering dimenangkan oleh syahwatnya sehingga ia bermaksiat. Pribadi seperti ini disebutkan dalam kitab Tazkiyatun Nafs sebagai pribadi yang selalu menyesali dirinya. Karena kerap setelah melakukan maksiat, iman dan akhlaknya kembali baik kemudian dia menyesal.

Dalam tafsir Departemen Agama RI, nafsu Lawamah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri) dijelaskan bahwa bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apa lagi bila ia berbuat kejahatan.

Pada tingkatan yang lebih parah, jiwa lawamah ini akan mendorong seseorang menjadi menyesal terhadap Allah (su’udzon kepada Allah), karena sesal yang dia rasa tidak mempunyai solusi akhirnya menyalah Allah. Ini sama saja menyalahkan takdir Allah. Orang yang menyalahkan takdir Allah berarti tidak beriman pada rukun iman yang ke-6. Bila tidak beriman pada satu rukun saja berarti sama saja tidak beriman (dipertanyakan keimanannya pada agama Islam).

3. Jiwa Muthma’inah: yaitu jiwa yang tenang. Mengenai kategori jiwa ini dapat dilihat pada firman Allah:

“Hai jiwa yang tenang (muthma’inah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS 89:27-30).

Sebagai salah satu contoh yang sangat baik untuk menggambarkan jiwa muthma’inah ini dilukiskan oleh Ustadz Musthafa Mansyur seorang ulama di Mesir dalam bukunya, yaitu kisah seorang ulama Mesir zaman dahulu yang di penjara oleh penguasa saat itu. Dengan kejam ia di penjara bersama dengan seekor singa. Penguasa itu berharap sang ulama akan memohon-mohon ampun kepadanya untuk membuktikan bahwa penolongnya yang sebenarnya bukanlah Allah, tapi si Penguasa itu, dan yang lebih berkuasa bukan Allah tapi dia.

D. Hal-Hal Yang Mengotori Keikhlasan dalam Beribadah dan Akhlaq Terpuji

Apabila ada hal-hal yang mengotori keikhlasan ibadah dan akhlaq terpuji maka perlu disucikan. tanda-tanda tidak ikhlas telah bisa muncul ke dalam hati kita. Faktor pembangkit yang bisa merusak keikhlasan yaitu:

  1. Riya’, yang berarti memperlihatkan suatu bentuk ibadah  dengan tujuan dilihat manusia, lalu orang-orangpun memujinya.
  2. Sum’ah, yang berarti beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas).
  3. Ujub, masih termasuk kategori riya’, hanya saja Ibnu Taimiyah membedakan keduanya dengan mengatakan bahwa: Riya’ masuk didalam bab menyekutukan Allah dengan makhluk, sedang ujub masuk dalam bab menyekutukan Allah dengan diri sendiri.

Kalau kita mau jujur, ikhlas dalam amal adalah sesuatu yang cukup sulit kita lakukan, dan perlu usaha terus menerus untuk melatih, dan mengevaluasinya secara terus menerus. Riya, sumah dan ujub adalah penyakit hati yang bukan monopoli umat Islam secara umum. Seseorang mujahid yang pergi jihad, ataupun seorang dai (ustadz) yang pergi berdakwah pun harus selalu membersihkan diri supaya terhindar dari penyakit hati ini. Dai atau ustadz yang pergi berdakwah bisa rusak keikhlasannya dalam tiga keadaan waktu:

  1. Rusak di awal. Ketidakikhlasan pada awal ialah berniat ingin popular, terkenal, mencari uang semata, untuk menghantam orang lain, dsb. Apabila semua ini terlintas di hati, maka seluruh amalannya itu tertolak, ibaratnya bagaikan kita melukis di atas air. Tidak ada pahala amalan tersebut untuk kita.
  2. Rusak di tengah. Contohnya semasa sedang ceramah melihat orang ramai mengangguk-angguk dan begitu khusyuk mendengar, maka merasa diri hebat (ujub). Ibaratnya bagaikan kita membangun rumah yang tidak pernah jadi-jadi, karena gangguan di sana dan disini.
  3. Rusak di akhir. Selepas ceramah, dalam perjalanan pulang ada orang yang memuji, maka hati menjadi berkembang-kembang. Pada waktu itulah sifat ujub datang, dan kita lupa bahwa semuanya adalah dari Allah, dan lupa bahwa kita beramal adalah untuk Allah semata. Ibaratnya rumah yang sudah dibangun dan bentuknya sangat indah, tiba-tiba runtuh rata dengan tanah.

Dalam suatu hadits dinyatakan, bahwa manusia pertama yang akan diadili pada hari kiamat nanti adalah orang yang mati syahid, namun niatnya dalam berperang adalah agar disebut pemberani. Orang kedua yang diadili adalah orang yang belajar dan mengajarkan ilmu serta mempelajari Al Qur’an, namun niatnya supaya disebut sebagai qori’ atau alim. Dan orang ketiga adalah orang yang diberi keluasan rizki dan harta lalu ia berinfak dengan harta tersebut, akan tetapi tujuannya agar disebut sebagai orang yang dermawan. Maka ketiga orang ini bernasib sama, yakni dimasukkan kedalam Neraka. Na’udzu billah min dzalik.

Sekali lagi sebelum terlambat segala sesuatunya, sebelum datang keputusan akhir dari Allah kepada kita, dan sebelum akhirnya kita dihisab oleh Allah, marilah kita menghisab diri dan hati kita.

Iklan

2 tanggapan untuk “TAZKIYATUN NAFS AL GHAZALI (series 2)

  1. Asslm . . .
    Bagaimana caranya supaya kita terhindar dari semua sifat penyakit berbahaya itu…tolong tips/trik menghadapinya…makasih

    1. salah satu trik untuk menghindari hal tersebut adalah :
      1. haru kita tanyakan pada diri kita ” kita itu hidup untuk siapa?”
      2. ingat tujuan kita hidup itu untuk dunia apa pemilik dunia…
      3. selalu berusaha untuk ikhlas dalam setiap bertindak..
      silahakan mencoba semoga menjadi manusia yang lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s