E. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)Al Ghazali

Metode tazkiyatun nafs Al Ghazali disamping harus menahan hawa nafsu tapi juga dengan beribadah dan berakhlaq terpuji

Akhlak Terpuji

Akhlak terpuji adalah perbuatan indah yang keluar dari kekuatan jiwa tanpa keterpaksaan, seperti kemurahan hati, lemah lembut, sabar, teguh, dan lain-lain.

Di sini islam menjadi penyeru pada akhlak yang baik dan mengajak kepada pendidikan akhlak di kalangan kaum muslimin, menumbuhkannya didalam jiwa mereka, dan menilai keimanan seorang dengan kemuliaan akhlaknya. Allah menjadikan akhlak yang utama sebagai sarana memperoleh surga yang tinggi. Allah mengutus RasulNya untuk menyempurnakan akhlak ini, sehingga beliau bersabda,

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Bukhari, Ahmad ).

liau juga menjelaskan keutamaan akhlak-akhlak yang mulia dalam sabda-sabda yang tidak terhitung, beliau bersabda,

“Tidak ada di dalam suatu timbangan (amal) yang lebih berat dari pada akhlak yang baik.” (H.R. at-Tirmidzi [2003]dan Abu Daud [4799])

“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (H.R. al-Bukhari)

“mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang palingbaik akhlaknya.” (H.R. al-Bukhari, [muslim: 2553]).

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian.” (H.R. at-Tirmidzi [2018]).

Rasulullah SAW ditanya amal apa yang paling utama? Beliau menjawab,”Akhlak yang baik” [H.R. Ahmad: 17358] juga ditanya tentang apa yang paling banyak memasukan kedalam surga. Beliau menjawab, “yaitu takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (H.R. at-Tirmidzi [2004, dan dihasankannya])

Di antara Sifat-Sifat Terpuji adalah:

Sabar dan Tahan Uji, di antara keindahan akhlak orang-orang islam dalam berhias adalah sabar dan tahan uji karena Allah. Kesabaran adalah menahan jiwa atas hal-hal yang tidak disukai, atau menanggung yang tidak disukai dengan rela dan pasrah.

Seorang muslim menahan jiwanya atas hal yang tidak dia sukai seperti bersusah payah melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah, terus berdisiplin dalam menjalankannya, menahan diri jangan sampai bermaksiat kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Luhur dan sama sekali enggan mendekatinya, meskipun secara naluri nafsunya menginginkan dan tergiur olehnya.

Ia juga menahan jiwanya atas cobaan yang menimpanya, sehingga tidak membiarkan bersedih atau membenci, karena kata ahli hikmah (orang bijak), “kesedihan atas hal yang telah berlalu adalah penyakit, sedangkan kesedihan atas hal yang sedang terjadi akan melemahkan akal”, dan benci kepada takdir adalah mencela Alah Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.

Karena kesabaran tanpa keluh kesah itu termasuk akhlak yang diusahakan dan diperoleh melalui berbagai macam latihan dan perjuangan, maka seorang muslim selalu amat membutuhkan pertolongan Allah, agar dianugerahi rizki berupa kesabaran dan juga memohon diilhami kesabaran dengan mengingat perintah-perintah yang ada dan pahala yang dijanjikan baginya. Seperti firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Al-Imran: 200).

“Sangatlah menakjubkan perkara orang beriman itu, sesungguhnya urusannya semuanya baik baginya, dan tidak ada yang demikian itu, kecuali bagi orang yang beriman, yaitu bila bencana menimpanya dia bersabar maka itu sangat baik baginya, bila kebahagiaan menghampirinya dia bersyukur, maka itu adalah sangat baik baginya.” (H.R. Muslim [2999]).

Beibadah

Jalan ibadah adalah jalan karunia, pahala, nikmat abadi, dan jalan tol menuju surga yang kekal. Semua terasa indah, seindah hati para ‘abidin (ahli ibadah) yang menjalaninya dengan ikhlas dan ihsan. Inilah jalan para nabi, para auliya, para shalihin dan mukhlisin.

Tapi, jalan menuju ke surga-Nya itu bukanlah jalan yang mudah dilalui oleh hamba-hamba yang mudah tergoda dunia dan lainnya. Berbagai jebakan menghadang, siap menarik seorang hamba ke lubang maksiat, hingga terus menjauh dari tujuan ibadahnya. Rasulullah saw. bersabda: “Ketahuilah, bahwa (jalan menuju) surga itu penuh rintangan dan lika-liku, sedangkan jalan ke neraka itu mudah dan rata.”

Melalui kitab MINHAJUL ‘ABIDIN ini, Imam al-Ghazali, ulama besar di bidang ilmu tasawuf dan fiqih, membagi perjalanan seorang ahli ibadah itu dalam tujuh tahapan. Ini adalah risalah bimbingan yang menjadi wasiat terakhirnya bagi umat ini, karena tak lama kemudian sang hujjatul islam ini meninggalkan dunia, menghadap Tuhan yang terus-menerus ia rindukan.

Al-Ghazali memaparkan tips-tips penting bagi kita agar selalu waspada terhadap setiap jebakan yang ada, dan agar dapat segera keluar bila kita telah masuk ke dalam perangkap itu, yaitu harus melawan Kendala-kendala di jalan ibadah

  1. Rezeki dan Tuntutan Nafsu
  2. Qadha’ Allah
  1. ragu dan khawatir
  1. Musibah dan Kesulitan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s