Filsafat ilmu, dalam wissenshaft lehre philoshopy of science, wetenchopler koento wibisono siswomiharjo (1988):

Refleksi filsafati yang tidak pernah mengalami titik henti dalam meneliti hakekat ilmu menuju pada sasarannya, yaitu apa yang disebut sebagai kenyataan atau kebenaran –sasaran yang memang tidak pernah akan habis difikirkan dan tidak akan pernah selesai diterangkan.

Setelah adanya refleksi tersebut kita pahami bahwa Filsafat Ilmu berarti memahami seluk beluk ilmu yang paling mendasar, sehingga dapat dipahami pula oleh bidang kajian dalam perspektif ilmu khususnya pada aspek kemungkinan pengembangannya, keterjalinan antar cabanng ilmu yang satu dengan yang lain, simplikasi, dan artifisialnya.

  1. A. Pengertian Ilmu dan pengetahuan

Pengetahuan (knowledge):

Segala sesuatu yang kebenarannya tertangkap dan tercerap oleh kita, dan dapat berupa:

–          Bagian dari realitas yang mempunyai kebenaran obyektif,

–          Konsep abstrak yang bersesuaian dengan realitas.

Ilmu (science) (wilardjo, 2003):

–          Pengetahuan yang diperoleh dan divalidasi dengan menyusuri daur imbas-jabar-tasdik (siklus indukto-dedukto validitif),

–          Ilmu merupakan spesies dari genus yang disebut pengetahuan,

–          Pengertian ilmu mencakup sistem, proses, produk, dan paradigmanya.

Menurut Kemeny (1959) menyatakan bahwa ilmu sebagai semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode-metode keilmuan, tegasnya pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil rentetan daur-daur pengimbasan (induksi), penjabaran (deduksi), dan penyahihan (verifikasi/validasi) yang terus-menerus tidak kunjung usai.

Menurut C. Verhaak (1995), pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaiannya dipertanggungjawabkan secara teoritis, tidak dibenarkan jika pengetahuan hanya untuk memuaskan hati atau akal budi manusia secara tuntas. Segala hasil pengetahuan bersifat sementara dan terbuka, bertanya sambil mencari.

Ilmu dapat dipandang sebagai produk, proses pengeparan sesuatu dengan cara-cara dan tujuan tertentu, paradigma penghasil, peminat dan pemakai serta sub sistem pelaporan.

Ciri teori ilmu adalah bahwa ia berbudaya ramal, dan selalu terbuka untuk diuji dan ditumbangkan dengan falsifikasi yang sahih.

Sejarah telah menunjukkan bahwa pada awalnya ilmu pengetahuan cabang berinduk pada filsafat. Dengan lepasnya iaktan dari filsafat ini, spesialisme menjadi semakin intensif di satu pihak, namun di lain pihak menjadikan kita “pangling” akan sumber pemikiran filsafatnya, sehingga muncullah ilmuwan-ilmuwan yang kehilangan visi dan orientasinya.

Dalam dinamika perkembangan yang semakin intens, ilmu sangat menguasai kehidupan manusia, individual maupun sosial. Implikasinya adalah:

  1. Cabang ilmu yang satu erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain. Garis demarkasi antara ilmu murni dan ilmu terapan menjadi kabur,
  2. Dengan semakin kabur garis demarkasi, maka timbullah persoalan mengenai sejauhmana nilai-nilai etika dan moral dapat intervensi dalam kegiatan ilmiah,
  3. Kehadiran teknologi yang mendominasi kehidupan menusia di segala bidang, maka timbul pertanyaan filsafati, apakah dengan dominasi ilmu pengetahuan, kehidupan manusia tambah maju atau justru sebaliknya.

Filsafat mendorong kita pada perluasan, ketajaman refleksi, kedalaman imajinasi agar terhindar kerabunan intelektual, hanyut dalam tradisi ilmu. Ilmu bukan barang yang sudah jadi, tertutup bagi perubahan dan pembaharuaan.

Filsafat ilmu adalah cabang ilmu filsafat. Ilmu filsafat merupakan kegiatan berrefleksi secara mendasar dan integral, maka filsafat ilmu adalah refleksi mendasar dan integral mengenai hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Objek filsafat ilmu adalah tiang-tiang, peyangga eksistensi ilmu pengetahuan; ontologi. epistimologi dan aksiologi.

Kegiatan  pendidikan keilmuan tidak, bola berhenti pada kematangan intelektual semata, melainkan harus menjangkau kedewaaan moral dan sosial. Penilaian akhir seorang ilmuawan tidak boleh diletakkan kepada kemampuan berpikirnya saja melainkan harus mengikutsertakan kedewasaan sikap dan tindakan.

Filsafat ilmu harus merupakan pengetahuan tentang ilmu yang didekati secara filsafati dengan tujuan untuk lebih mengfungsionalkan wujud keilmuan baik secara intelektual, moral dan sosial.

Filsafat ilmu harus mencakup bukan saja pembahasan mengenai ilmu itu sendiri berserta segenap perangkatnya melainkan sekaligus kaitan ilmu dengan berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, kebudayaan, sosial, dan bahkan politik.

Secara kurikuler, pembahasan materi filsafat ilmu harus dikaitkan deengan kegiatan pokok keilmuan. Salah satu kegiatan pokok keilmuan yang dapat dijadikan titik tolok / point of entry dalam membahas filsafat ilmu adalah: kegiatan penelitian ilmiah (metodologi penelitian).

Filsafat ilmu tidaklah ditujukan untuk mendidik seseorang menjadi ahli dalam filsafat ilmu melainkan pengetahuan pelengkap bagi pendidikan keilmuan dalam berbagai disiplin ilmu.

Tugas filsuf menurut Hans Albert adalah memperjelas masalah, yang mencakup membuat cerah, dan pantang lelah menyingkirkan teori-teori, prasangka-prasangka, dan pendapat-pendapat salah yang sudah terbantah.

Filsafat ilmu memberikan kerangka dasar berpikir dalam berolah ilmu agar proses dan produk keilmuan yang dihasilkan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah moral, etika dan kesusilaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s