Posted in Education

EFEKTIVITAS MODIFIKASI PERILAKU-KOGNITIF UNTUK MENGURANGI KECEMASAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI


Modifikasi perilaku-kognitif terdiri dari bermacam-macam teknik. Pada bagian ini akan dibahas teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian ini.

(a) Teknik relaksasi. Teknik ini dilakukan berdasar pada asumsi bahwa individu dapat secara sadar untuk belajar merilekskan otot-ototnya sesuai dengan keinginannya melalui suatu cara yang sistematis (Jacobson dalam walker dkk., 1981). Ada bermacam-macam teknik relaksasi, salah satunya yaitu teknik relaxation via letting go agar subjek mampu melepaskan ketegangan dan akhirnya mencapai keadaan tanpa ketegangan. Diharapkan subjek belajar menyadari ketegangannya dengan menegangkan otot-ototnya dan berusaha untuk sedapat mungkin mengurang dan menghilangkan ketegangan otot tersebut. Selain itu dilatihkan pula teknik differential relaxation yang mengajarkan kepada subjek ketrampilan untuk merilekskan otot-otot yang tidak mendukung aktivitas yang dilakukan, karena dalam keadaan cemas seluruh otot cenderung tegang, walau otot tersebut kurang berperan dalam aktivitas tertentu. Pada penelitian ini materi teknik relaksasi yang digunakan diambil dari materi relaksasi yang digunakan oleh Andajani (1990).

(b) Teknik pemantauan diri. Teknik ini berfungsi sebagai alat pengumpul data sekaligus berfungsi terapiutik. Dasar pemikiran teknik ini adalah pemantauan diri terkait dengan evaluasi diri dan pengukuhan diri (Kanfer, dikutip Andajani, 1990). Subjek memantau dan mencatat perilakunya sendiri, sehingga lebih menyadari perilakunya setiap saat.

Beberapa langkah dalam teknik pemantauan diri adalah sebagai berikut: (a) mendiskusikan dengan subjek tentang pentingnya subjek memantau dan mencatat perilakunya secara teliti, (b) subjek dan terapis secara bersama-sama menentukan jenis perilaku yang hendak dipantau, (c) mendiskusikan saat-saat pemantauan dilaksanakan, (d) terapis menunjukkan pada subjek cara mencatat data, (e) role play

Pemantauan diri hendaknya dilakukan untuk satu jenis perilaku dan relatif merupakan respon yang sederhana (Kanfer, 1975).

(c) Teknik kognitif. Dasar pikiran teknik kognitif adalah bahwa proses kognitif sangat berpengaruh terhadap perilaku yang ditampakan oleh individu. Burns (1988) mengungkapkan bahwa perasaan individu sering dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan individu mengenai dirinya sendiri. Pikiran individu tersebut belum tentu merupakan suatu pemikiran yang objektif mengenai keadaan yang dialami sebenarnya. Penyimpangan proses kognitif oleh Burns (1988) juga disebut dengan distorsi kognitif. Pemikiran Burns merupakan pengembangan dari pendapat Goldfried dan Davison (1976) yang menyatakan bahwa reaksi emosional tidak menyenangkan yang dialami individu dapat digunakan sebagai tanda bahwa apa yang dipikirkan mengenai dirinya sendiri mungkin tidak rasional, untuk selanjutnya individu belajar membangun pikiran yang objektif dan rasional terhadap peristiwa yang dialami.

Berikut ini akan dipaparkan peranan masing-masing teknik yang digunakan pada penelitian ini terhadap pengendalian kecemasan komunikasi antar pribadi.

1. Peranan Teknik Relaksasi pada Pengendalian Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi

Individu perlu membuat dirinya dalam keadaan rileks pada saat individu menyadari pikiran-pikirannya yang tidak rasional dan melihat peristiwa yang dihadapinya secara objektif dan rasional, sehingga tercapai keadaan individu yang mampu mengurangi perasaan tidak menyenangkan. Teknik relaksasi dipelajari untuk meningkatkan kemampuan menyadari ketegangan otot yang terjadi pada saat mengalami kecemasan komunikasi antar pribadi dan secara sistematis meredakan ketegangan tersebut mencapai keadaan rileks.

Pada saat individu merasa cemas, maka sebenarnya otot-otot tubuhnya mengalami ketegangan terutama pada otot sekitar wajah, dan leher. Denyut jantung juga menjadi berdetak lebih keras. Ketegangan pada otot-otot tersebut menyebabkan individu semakin sulit untuk melakukan komunikasi, denyut jantung yang berdebar membuat seseorang menjadi merasa cemas dan tidak mampu berpikir tentang hal-hal yang ingin diungkapkan. Dengan melatih tubuh menjadi rileks, maka ketika individu merasa tegang ia menjadi lebih cepat sadar tentang kondisi dirinya yang tegang. Ketika individu telah berhasil meredakan ketegangan tubuhnya, ia akan lebih mampu berpikir lebih baik tentang hal-hal yang ingin diungkapkan.

2. Peranan Teknik Pemantauan Diri Pada Pengendalian Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi

Teknik pemantauan diri dilaksanakan dengan tujuan peningkatan kesadaran individu tentang perilaku dirinya, melalui pemantauan serta pencatatan sehingga diharapkan individu yang bersangkutan mempunyai pemahaman yang objekif terhadap perilakunya (Kanfer, 1975). Soekadji (1983) menegaskan pentingnya pemantauan diri dan pencatatan data pada subjek agar tidak menimbulkan kesan yang salah bahwa ada perubahan perilaku yang sebenarnya hanya merupakan harapannya saja.

Proses pemantauan diri dan pencatatan data dapat menimbulkan perubahan frekuensi perilaku tidak adaptif, karena dalam proses tersebut juga terjadi proses evaluasi dan pengukuhan diri (Kanfer, 1975).

Pencatatan yang dilakukan individu akan membantu individu tersebut untuk lebih memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi sehari-hari, perasaan-perasaan yang dialami ketika berkomunikasi dengan individu lain.

Dengan latihan pencatatan pemantauan diri maka individu lebih menyelami perasaannya dan mampu mengoreksi perasaan negatif yang dialaminya.

3. Peranan Teknik Komunikasi pada Pengendalian Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi

Teknik ini bertujuan untuk mengajarkan kemampuan aspek kognitif yang berperan untuk pembentukan perilaku yang dikehendaki (Goldfried dan Davison, 1976). Individu mengembangkan perilakunya yang adaptif maupun tidak adaptif dan pola perasaan melalui proses kognitif (Burns, 1988). Kesadaran individu bahwa kecemasannya dalam berkomunikasi antar pribadi disebabkan oleh adanya pikiran dan persepsi yang tidak rasional dan kemampuan untuk menggantikan pikiran-pikiran tidak rasional dengan pikiran objektif membuat individu lebih terkendali (Markman dalam Kanfer dan Goldstein, 1986). Dengan demikian individu melakukan evaluasi terhadap pernyataan-pernyataan diri yang menimbulkan kecemasan, menghentikan pikiran-pikiran tersebut, dan kemudian membuat pernyataan-pernyataan diri yang objektif serta rasional (Bellack dan Hersen, 1977).

Individu yang merasa cemas ketika berkomunikasi antara pribadi sebenarnya mengalami beberapa distorsi kognitif yang tidak disadarinya. Dengan individu menyadari bahwa ternyata ada beberapa distorsi kognitif, maka diharapkan individu tersebut mampu mengatasi rasa cemasnya dengan memperbaiki pola pemikirannya.

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s