Belajar Memimpin Dari AnjingBeberapa waktu lalu, seorang tukang sayur yang biasa lewat di depan rumah membuat saya tertawa. Merasakan pahitnya berjualan di zaman ini, ia bertanya : ‘Pak, apa Indonesia mau perang, koq keadaan separah ini ?’. Cerita lain, semenjak ekonomi kita morat-marit, saya memiliki pekerjaan tambahan : mencarikan pekerjaan teman lama yang terkena musibah PHK, dan mendengarkan keluhan orang yang susah. Belum lagi ditambah dengan manusia-manusia resah yang saya temukan di super market. Sudah susah mencari barang, duit tidak ada. Bahkan, tidak sedikit orang yang terlanjur mati karena tidak tersedia obat. Seorang pekerja bawahan bertanya : ‘sudah susah menemukan pekerjaan, tetapi harga kebutuhan pokok meroket tidak terkendali, ini negara atau neraka ?.

Dirangkum menjadi satu, cerita-cerita ini membawa saya pada sebuah kesedihan, jangan-jangan manusia di Republik ini sudah direduksi ke dalam angka. Ia hanya sebagian dari angka-angka mati yang tercantum di neraca perusahaan dan APBN. Ketika roda produksi dan perekonomian memerlukan, mereka dibayar. Tatkala sebaliknya, mereka diperlakukan sama saja dengan komponen produksi yang lain.

Lebih dari itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kita termasuk negara dengan tingkat upah terendah di Asean. Bayangkan, setelah lama memberikan subsidi terhadap pengusaha dan penguasa, saat krisis, mereka juga yang terkena paling pertama. Alangkah malangnya jadi manusia biasa di Republik ini.

Di Amerika atau Inggris sana, ada sebuah mahluk yang hidupnya sangat mewah. Memakan daging dengan kualitas yang baik. Ditemani tidur. Dimandikan dengan sabun yang wangi. Dicium dan dipeluk. Dipakai sebagai teman baik saat bepergian. Kalau potong rambut ke salon. Dan sedikit saja terkena batuk dibawa ke dokter hewan. Di sini, mahluk itu disebut anjing. Sebuah istilah kasar yang sering digunakan untuk memaki orang. Anda tahu, kalau ayam mesti bertelur untuk hidup. Lembu mesti mengeluarkan susu. Kuda malah lebih berat menggendong beban ke mana-mana. Burung beo mesti pintar merayu agar hidup mewah. Tetapi, anjing ini modal utamanya sangatlah sederhana. Tatkala tuannya datang, ia cukup menggonggong dengan ekspresi girang, menggerak-gerakkan ekor sebagai tanda gembira, dan menjaga sang tuan kalau diperlukan. Intinya, ia hidup mudah dan mewah karena menyayangi sang tuan.

Mencermati bagaimana manusia di sini diperlakukan, saya jadi berfikir kembali. Kalau anjing hidupnya bisa demikian mewah dengan cara menyayangi, adakah pemimpin di negeri ini yang sempat berfikir bahwa demikian banyak yang kita bisa peroleh dengan kegiatan menyayangi ?.

Sayangnya, saya belum pernah melakukan riset mengenai hal ini. Sehingga tidak berani menyimpulkan, bahwa ada pemimpin yang kualitas kepemimpinannya lebih rendah dari anjing Amerika.

Saya pernah mendengar cerita dari sejumlah orang tua yang sempat menjadi bawahannya almarhum Mohammad Gobel. Ketika pabriknya di Cawang berhenti berproduksi karena beberapa hal, mereka tidak di-PHK. Semuanya tetap ke kantor. Ada yang mengepel, menyapu, memperbaiki jendela yang rusak, genteng yang bocor, menggunting rumput dan masih banyak lagi kegiatan sejenis. Tatkala keadaan perusahaan membaik, orang-orang ini tidak ada satupun yang berfikir keluar.

Seorang direksi di salah satu anak perusahaan Astra pernah bertutur tentang pengalamannya berinteraksi dengan William Suryajaya. Kendati sudah tidak lagi menjadi boss di Astra, pada satu kesempatan bertemu di sebuah mall, si Om ini masih menyempatkan menggendong anak kecil sang direksi tadi, sambil menyelipkan uang lima puluh ribuan di saku si anak tadi. Sekarang, kapan saja direksi tadi disuruh cabut dari Astra untuk mendukung si Om, ia selalu siap.

Konosuke Matsushita sebelum meninggal sempat menulis buku ‘Man Does Not Live With Bread Alone’. Ia juga yang pertama kali mencetuskan ide membuat manusia dulu baru kemudian membuat barang. Sekarang, di Jepang sana ia dikenal sebagai salah satu ‘dewa’ manajemen Jepang, disamping perusahaannya tetap menjulang.

Hewlett &¬†Packard – dua orang yang sering disebut sebagai pendiri industri teknologi informasi yang sekarang amat berpengaruh – menemukan prinsip ‘manusia adalah segalanya’. Sebuah prinsip yang menjadi fondamen utama dari The HP Way yang banyak ditiru di lembah silikon.

Dale Carnegie di salah satu bukunya pernah bertutur tentang gaji seorang eksekutif yang demikian tinggi, hanya karena cermat sekali menyayangi karyawan. Di satu kesempatan, eksekutif bergaji tinggi ini memergoki seorang karyawan merokok di daerah yang dilarang merokok. Eksekutif ini bukannya menunjuk pada papan dilarang merokok, apa alagi memaki dengan makian tidak enak. Dengan sikap simpatik eksekutif ini memberikan cerutu yang ada di kantongnya kepada karyawan tadi, sambil berbisik penuh persahabatan : ‘saya akan lebih senang bila Anda merokok di ruang yang diperbolehkan merokok’.

Lady Diana dan Ibu Theresa adalah contoh lain dari orang yang memperoleh banyak sekali hal dalam hidupnya dari kegiatan menyayangi. Bayangkan, miliaran manusia berdoa tulus mendoakan kepergian sang Lady. Ibu Theresa bahkan dimakamkan bak seorang ratu.

Kembali ke soal bagaimana manusia diperlakukan di Republik ini, sahabat saya Dedi Gumelar (Miing) punya cerita menarik. Suatu hari, putera Dedi yang baru berumur dua tahunan tidak mau tidur. Dibujuk, dirayu, diberi hadiah, dan banyak cara lain tidak berhasil membuat sang anak tidur. Dasar komedian jempolan yang kreatif, Dedi kemudian berujar : ‘Kalau nggak mau tidur papa panggilin IMF’. Karena takut, maka tidurlah si anak.

Saya yakin, Dedi Gumelar tidak sedang melawak dengan cerita ini. Ia sedang mengartikulasikan bakat kesenimananya dengan memberi cermin bahwa inilah kondisi masyarakat kita. Di mana ketakutan sudah menjadi warna yang terlalu kental.

Dalam masyarakat demikian, tentu saja berlebihan sekali kalau ada yang medatangkan seekor anjing Amerika sebagai contoh untuk dipelajari oleh kaum pemimpin di negeri ini. Namun, masihkah kita punya sisa pemimpin yang hidup nyaman dari kegiatan menyayangi ?. (gede prama)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s