AKHIR-akhir ini banyak beredar minuman asli, tapi palsu (aspal). Disebut demikian karena bentuk fisiknya serupa dengan yang asli. Lantaran itu, tak sedikit masyarakat awam yang terkecoh.

Menurut Prof dr R. Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK, staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, semua jenis minuman kemasan berpotensi dipalsu. Misalnya, softdrink, teh, bahkan air mineral kemasan.

Botol yang digunakan asli dari produsen, namun isinya tidak sesuai. Kemasannya dapat berupa botol plastik ataupun kaca. Jarang dijumpai minuman dalam kemasan kardus dan kaleng yang dipalsukan. “Biasanya, minuman tersebut mempunyai kemasan yang dapat diperjualbelikan sehingga mudah dipalsu,” ujar Bambang.

Mengenali minuman palsu dengan yang asli memang sulit dibedakan. Sebab, keduanya mempunyai fisik, rasa, bau, dan warna yang serupa. Bahkan, jika dilihat sepintas seperti tidak ada perbedaan. Apalagi bila yang memalsu adalah produsen berpengalaman. Konsumen akan lebih sulit untuk mengenalinya.

“Cara paling efektif untuk mengetahuinya adalah dengan pengetesan warna dari minuman tersebut,” jelas pakar gizi itu. Pada minuman kemasan palsu, jika minuman mengenai pakaian atau kain, warna yang menempel tidak akan hilang walau dicuci berulang-ulang. “Hal ini berlaku untuk semua minuman palsu, baik yang dibuat produsen berpengalaman ataupun yang amatir,” jelasnya.

Terhadap produk dari produsen yang tidak berpengalaman, ada beragam cara mengetes keasliannya.

Pertama, kejernihan. Ketika diterawang, akan terlihat ampas atau serat dari bahan yang digunakan. Ketika didiamkan akan terdapat endapan di bagian bawah minuman. Pada air mineral palsu, selain ampas kadang-kadang dijumpai lumut, bahkan jentik nyamuk.

Kedua, bau. Pada minuman baru, baunya tidak akan berbeda dengan aslinya. Namun, jika sudah dua hingga tiga hari belum terjual, bau berubah. “Baunya busuk. Itu disebabkan kuman pembusuk dari bahan-bahan yang tidak higienis,” kata spesialis gizi klinik itu. Begitu juga pada air mineral, baunya tidak lagi segar, tetapi busuk.

Ketiga, rasa. Ada perubahan rasa minuman aspal. Biasanya, rasanya masam dan tidak enak. Hal tersebut juga disebabkan proses pembusukan.

Keempat, warna. Seperti halnya produsen berpengalaman, minuman yang dibuat produsen kurang berpengalaman juga menyebabkan warna permanen pada kain.

Kelima, kenali bentuk fisik atau kemasan. Kondisi botol tidak bersih dan tidak bagus. Kalaupun bersih, mungkin terdapat banyak goresan di bagian luar. “Tutup botolnya juga mudah dibuka karena cara menutupnya hanya ditekan tanpa menggunakan alat khusus,” ungkapnya.

Biasanya, minuman palsu dijual bebas dan dapat ditemukan di berbagai tempat umum. Seperti terminal, stasiun, SPBU, dan warung-warung pinggir jalan. Apalagi jika minuman tersebut dijual dengan cara dimasukkan dalam plastik dan diberi tambahan es batu. Maka, perbedaan rasa akan semakin tidak kentara. Walau demikian, bukan berarti minuman aspal tidak ditemukan di restoran-restoran ataupun supermarket. Namun, persentasenya lebih kecil.

Ada beberapa kemungkinan setelah mengonsumsi minuman palsu. Dalam jangka waktu pendek, menurut Bambang, dapat timbul gatal-gatal dan keracunan. Gejala awal keracunan adalah muntah, mual, pusing, dan diare. Bahkan, pasien bisa sampai tidak sadar. Penanganan pertamanya, berikan air kelapa hijau. “Air kelapa mengandung cairan elektrolit yang bisa mengganti cairan tubuh yang hilang,” katanya.

Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, minuman aspal akan memengaruhi sifat genetik konsumen. Misalnya, gangguan ginjal. “Karena itu, perlu diperhatikan agar konsumen tidak sembarangan mengonsumsi minuman kemasan. Sebaiknya, periksa dengan teliti minuman yang akan dibeli,” tuturnya. (rth)

Makanan Lebih Mudah Dikenali

TAK hanya minuman, ternyata makanan juga banyak yang dipalsukan. Namun, dampak yang ditimbulkan tidak separah minuman palsu. Sebab, perbedaan bau, fisik, serta rasa membuat masyarakat dapat segera mengenalinya.

Menurut Prof dr R. Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK, jika makanan palsu sampai dikonsumsi maka salah satu dampak yang ditimbulkan adalah keracunan. Keracunan biasanya terjadi karena makanan tersebut tidak higienis. “Konsumen akan mual, pusing, muntah, sakit perut, dan diare,” ujar Bambang.

Penanganannya, memuntahkan makanan tersebut, banyak mengonsumsi air putih, dan air kelapa muda hijau.

Melihat dampak yang ditimbulkan, Bambang memberikan saran, “Sebelum mengonsumsi makanan sebaiknya diteliti dulu rasa, warna, bentuk fisik, hingga baunya.” (rth)

sumber : jawapos 22/02/2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s