Posted in Others

Bab Pertama Buku Kebijaksanaan


Bab Pertama Buku KebijaksanaanBab Pertama Buku Kebijaksanaan

Dalam bidang kepemimpinan maupun personal power, ada banyak orang yang menyimpan keingintahuan, dari mana wibawa, karisma, daya tarik, daya pengaruh pada orang lain, dan hal-hal sejenis berasal. Anda boleh saja memiliki teori dan keyakinan sendiri, entah pendekatan terlahir ataupun pendekatan bisa dipelajari. Namun, bagi saya apa yang kita miliki sekarang ini – dari tingkatan wibawa, karisma, dll – adalah hasil tabungan perbuatan kita dalam kurun waktu yang amat panjang.

Memang, manusia diberi bekal yang relatif berbeda ketika baru lahir. Akan tetapi, perbuatan bisa memperkuat maupun menghancurkan bekal lahiriah tadi. Terus terang, jika bekal lahiriah diandaikan dengan sebuah kain – dengan tetap bersukur pada Tuhan saya ingin ceritakan, saya dibekali kain yang tidak terlalu membanggakan. Anda bisa bayangkan, saya ini adalah bungsu dari tiga belas bersaudara. Pernah lama minder baik akibat kecerdasan yang kurang, maupun diejek orang karena memiliki banyak kelemahan. Dan bukan pada tempatnya kalau saya menceritakan semua sisi gelap masa lalu saya di sini. Yang jelas, di titik start saya berlari, modal saya amat terbatas.

Saya heran kalau ada orang yang menyebut saya memiliki kelebihan sekarang. Sebab, disamping modal awalnya terbatas, semuanya dicapai dengan cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Ramuannya amatlah sederhana : berbuat baik, berbuat baik dan berbuat baik. Bahkan, hampir tidak ada dari perbuatan tadi yang bernilai ‘besar’. Hampir semuanya berskala amat sederhana. Menempatkan nasi di pinggir kali belakang rumah untuk dimakan burung gereja setiap pagi, membantu orang tidak mampu semampunya, hanyalah sebagian dari hal-hal mudah dan sederhana yang secara terus menerus saya lakukan.

Lebih-lebih ketika bekerja. Seorang rekan yang mengetahui pilosopi kerja saya pernah menyebut saya seorang sufi. Terutama, setelah mengetahui kalau saya tidak terlalu ‘berhitung’. Waktu presentasi yang seharusnya tiga jam melebar menjadi empat jam, dan saya tidak pernah meminta biaya tambahan. Semenjak dipercaya memimpin perusahaan, belum pernah saya mempertanyakan besarnya gaji yang diberikan. Lebih-lebih berhitung bekerja lembur di hari Sabtu atau Minggu, ia tidak pernah terjadi dalam catatan hidup saya. Setiap kelebihan kerja, saya anggap sebagai persembahan buat Tuhan.

Ada memang orang yang merasa tersiksa dengan hidup ‘mengalir’ seperti ini. Bahkan, mencontohkannya dengan sepatu yang diinjak-injak orang lain dan kecenderungan. Dan di sinilah letak indahnya kehidupan. Orang yang merasa tersiksa tadi, hidupnya menaik. Sayapun amat mensyukuri hidup saya yang juga menaik.

Disamping itu, saya sering menempatkan rangkaian hari dalam kehidupan seperti kegiatan menabung tindakan-tindakan kecil yang tidak dikenal. Semakin tidak dikenal dan tidak diketahui orang manapun, semakin besar nilai tabungannya bagi saya. Dan inipun tidak bersembunyi pada hal-hal ‘besar’. Mematikan kran air di tempat umum, memberi tanda pada jalan yang berlubang, mengembalikan bola pada anak orang yang sedang berenang sambil bermain bola, adalah bentuk-bentuk tabungan-tabungan kecil yang tidak dikenal. Sebagian besar bahkan tidak diakhiri oleh ucapan terimakasih.

Hampir setiap malam saya membuka e-mail, dan menemukan banyak surat yang meminta nasehat. Sahabat saya menyarankan agar mereka dikenakan biaya saja. Sampai sekarang, saran terakhir tidak saya turuti. Ada kesenangan dan kebahagiaan tersendiri. Kendati, karena demikian banyaknya e-mail, saya harus memprioritaskan orang-orang yang belum pernah mendapat jawaban. Ada memang yang kecewa, sebab suratnya yang ketiga maupun keempat tidak sempat dibalas. Namun, itulah hal maksimal yang bisa dilakukan di tengah mobilitas kerja yang amat tinggi.

Dalam ritme kerja yang jarang di rumah (seminggu kadang ada di empat kota), saya sering merasa berhutang sama anak-anak dan anak mertua. Kendati saya tahu memanjakan mereka tidaklah terlalu mendidik, tetapi selalu disempatkan untuk menelpon setiap hari. Kerap saya bernyanyi di telepon untuk anak bungsu saya yang baru berumur tiga tahun setengah. Sampai-sampai anak yang masih berbicara cadel ini, hafal lagu Every Day I Love You yang sering saya nyanyikan di telepon.

Dan sebagaimana manusia biasa lainnya, sayapun kerap melakukan perbuatan buruk – baik disengaja maupun tidak disengaja. Di tingkat karir yang agak tinggi ini, godaan memang bisa datang dari mana-mana : atasan, bawahan, rekan kerja, wanita sampai dengan harta. Tidak semua godaan saya bisa lulus. Kadang terjatuh dan menyakitkan. Berkata-kata kasar, kadang memang tidak terasa. Melirik wanita cantik lebih tidak terasa lagi. Kesal dengan orang yang menyinggung perasaan itu malah sering terjadi.

Entah bagaimana kehidupan Anda, kehidupan saya membawa sensitifitas yang amat tinggi akan segala perbuatan buruk. Lupa membawa sandal milik hotel pernah membuat saya hampir celaka. Keceplosan menghina orang lain, membuat saya sempat menderita. Terbawa perasaan pada wanita lain, hampir membuat seluruh hidup saya hancur lebur.

Boleh saja psikolog menyebutnya self fulfilling prophecy. Namun, sejak umur yang amat kecil tubuh ini memang ditandai sensitifitas yang demikian tinggi akan perbuatan buruk. Makanya saya tidak terlalu heran membaca tulisan Thomas Jefferson yang menulis : ‘kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan’. (gede prama)

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s