Posted in Education

Mendisiplinkan Tanpa Menghukum


Mendisiplinkan Tanpa MenghukumSatu topik yang tidak pernah absen pada setiap diskursus tentang SDM adalah disiplin. Sejak zamannya Taylor sampai dengan sekarang, hampir tidak ada pembicaraan SDM yang alpa dari topik ini. Sebagai bukti, lihat saja upaya implementasi SDM di sektor pemerintahan maupun swasta. Pemerintah memiliki program GDN (gerakan disiplin nasional) yang sempat melibatkan tentara membawa pentungan di pinggir jalan. Pengusaha memandang miring setiap gerakan karyawan yang keluar dari aturan. Nyaris setiap manajer bermimpi punya bawahan yang baik dan patuh. Dalam beberapa kejadian, bahkan ada upaya sengaja, untuk secara sangat mudah memberi stempel ‘komunis’ (baca : PKI) terhadap gerakan-gerakan yang dinilai menyimpang.

Benang merah yang tersembunyi di balik semua ini, upaya mendisiplinkan manusia dimanapun, hampir selalu diidentikkan dengan hukuman. Meminjam argumen beberapa rekan sarjana hukum, tidak ada disiplin bila tidak ada hukuman.

Mirip dengan hutan belantara, di mana siapa yang kuat ia yang akan berkuasa, dalam konsep disiplin model hukuman ini, siapa yang memegang hukum dan perundang-undangan maka dialah yang menentukan kemana semua orang mesti pergi.

Bila kita hidup dalam zaman kolonial, di mana demokrasi masih sebatas mimpi, pendidikan hanya dimonopoli orang-orang tertentu, dan globalisasi hanya menjadi tema cerita film anak-anak, mungkin masih ada relevansinya untuk berfikir disiplin dalam bingkai hukuman.

Akan tetapi, begitu pemogokan buruh bukan lagi barang aneh, menelanjangi menteri sudah menjadi menu banyak media, menghitung rugi laba perusahaan oleh buruh sudah dilakukan, dan komando manajer tidak selalu digubris, bisa jadi inilah saatnya untuk berfikir disiplin dalam kerangka di luar hukuman.

Terus terang, tidak mudah membawa orang untuk keluar dari paradigma yang sudah terlalu mapan. Ini terlihat dari banyaknya pengusaha, CEO, manajer dan supervisor yang mengalami kesulitan mengadopsi model disiplin di luar hukuman. Demikian biasanya dengan hukuman, sejumlah pimpinan puncak yang mengikuti pelatihan saya tentang hal ini, bahkan curiga jangan-jangan konsep disiplin tanpa hukuman ini sudah dicemari oleh gerakan-gerakan buruh yang destruktif.

Boleh-boleh saja orang lain berargumen seperti itu. Hanya saja, siapapun – sekali lagi siapapun – sekarang ini tidak berdaya menghadapi gerakan-gerakan egaliter ala demokrasi. Tembok komunis yang demikian kokoh dan mengerikan saja runtuh oleh kecenderungan ini.

Menyadari ketidakberdayaan kita akan kecenderungan terakhir ini, dengan penuh resiko kemudian saya mendisain dan memasyarakatkan pelatihan disiplin tanpa menghukum.

Berbeda dengan konsep lama yang menempatkan disiplin sebagai penyakit, dan hukuman adalah obat mujarabnya, dalam konsep ini pendisiplinan dilakukan dalam bingkai not knowing approach of theraphy.

Agen perubahan, dalam hal ini, tidak berfungsi seperti dukun yang meminta pasiennya diam dan mengunyah apa saja yang diberikan. Namun, bersenjatakan pertanyaan, simpati dan empati, kemudian ia membawa sang pasien ke dalam sebuah pemahaman yang ia temukan sendiri.

Untuk masuk ke arena yang lebih konkrit, izinkan saya mengemukakan contoh berikut ini.

Saya mengenal secara dekat seorang pengusaha yang memiliki karyawan lebih dari empat ribu orang. Hampir semua orang yang saya temui di pabriknya, merasa ‘segan’ dengan pengusaha ini. Bukan karena ia sering mengancam orang, bukan juga karena bertubuh kekar dan seram, tidak juga mudah mengecap orang dengan PKI. Ia adalah seorang figur sederhana.

Bila mau, ia bisa membeli sejumlah mercedes model terbaru. Akan tetapi, karena manajernya mengendarai Mazda baby boomer, ia merasa cukup hanya dengan mengendarai Mazda Van Trend, atau kadang Toyota Hard Top tua yang mulai kusut.

Sebagai pemilik sekaligus eksekutif puncak, tentu saja ada banyak isu dan hasutan yang mengelilinginya. Akan tetapi, setiap kali memanggil karyawan, ia selalu mulai dengan pertanyaan ‘ada apa ?’ yang netral dan tidak tendensius. Dalam setiap kesempatan, ia tidak pernah melupakan senjata utamanya : pertanyaan.

Pernah terjadi, sejumlah karyawan tidak puas dengan perlakuan manajer personalia. Kemudian, menimbulkan suasana panas yang mencekam. Dengan kepala dingin ia datang bertanya : ‘ada apa ?’. Lain sekali dengan manajer personalia yang selalu mengawali pertemuan dengan pertanyaan ‘mau apa ?’.

Pada kesempatan lain, seorang manajer pernah mengadu diperlakukan buruk oleh manajer lain. Setelah nyaris bosan mendengarkan cerita-cerita yang semuanya bernada miring dan negatif, ia kemudian melemparkan pertanyaan sederhana : ‘bila dia berada dalam posisi Anda, apakah ia juga akan bercerita hal yang sama ke saya ?’. Mudah ditebak, tentu saja orang ini hanya bisa menelan ludah setelah ditanya halus seperti ini.

Bulan lalu, saya diundang oleh Astra Agro Lestari untuk memberikan sharing and learning di depan manajer dan direksinya. Pada saat break, dua direksinya bertutur tentang pengalamannya berinteraksi dengan William Suryajaya. Kendatipun sudah lama tidak lagi menjadi pegawainya si om, dua direksi ini – sebagai catatan hampir semua orang Astra yang saya temui bertutur sama tentang hal ini – memendam rasa hormat yang dalam tentang si om. Bukan karena pernah dibagi bonus, tidak karena diselamatkan dari G 30 S PKI, melainkan karena pernah diperlakukan sangat manusiawi oleh salah seorang pengusaha kaya di republik ini.

Sekarang, kendati sudah tidak dikomando sang om, dimanapun bertemu si om, dua direksi tadi masih mengangkat topi tinggi-tinggi. Lebih dari itu, mereka terus berupaya untuk memimpin dan berperilaku persis seperti pernah dinasehatkan si om.

Dari kedua contoh ini, terlihat jelas, dunia pendisiplinan tidak hanya selebar ‘daun kelor’ hukuman. Di luar itu, masih ada cara yang masih bisa dimanfaatkan.

Ia menuntut kesediaan memperlakukan orang secara manusiawi, kemampuan untuk cermat bertanya, empati dan sejumlah keteladanan.

Meminjam argumen seorang sosiolog, kerangka bangunan dalam bentuk masyarakat dan organisasi, disatukan satu faktor dominan : trust. Dan, hal terakhir ini lebih mungkin hadir melalui konsep pendisiplinan tanpa menghukum.

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s