1. PENDAHULUAN

Keadilan sesungguhnya adalah satu di antara sekian banyak atribut Tuhan yang sangat indah. Manusialah, karena keluhuran akal budinya, yang diberi amanat menjaganya dalam setiap gerak kehidupan. Berlaku adil dan diperlakukan adil adalah formula normatif terbaik dalam kehidupan. Tidak sederhana memang karena keadilan tidak selamanya bersifat obyektif. Kadang keadilan adalah realitas yang dipersepsikan sehingga sifatnya menjadi sangat subyektif.

Adalah hak publik pula untuk memiliki persepsi tersendiri tentang apa itu keadilan. Dengan logikanya yang sederhana, masyarakat kadang bahkan lebih permana (cermat) dalam menakar keadilan ketimbang para penegak hukum yang berkiblat dengan logika-logika njelimet. Apabila kita mengamini pandangan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, keadilan sejati tersebut tentu saja senada dengan apa yang disuarakan rakyat.

Realitasnya, sekian lama kita berkutat dalam lembaga bernama negara, keadilan itu rasanya menjadi semakin sulit kita temui. Semakin banyak orang menangis, histeris, karena merasa ditidakadili. Keadilan justru dikorupsi oleh aparat yang diamanati rakyat untuk menegakkannya. Belum lagi drama cicak-buaya pupus dari ruang batin kita, kisah Minah dengan tiga biji kakao ”temuannya” belum juga bisa dilupakan, kisah pilu peradilan kita tertoreh kembali.

Kali ini Prita Mulyasari, yang tertebas ”pedang keadilan”. Prita kalah dalam gugatan perdata di Pengadilan Tinggi Banten yang mengganjarnya denda Rp 204 juta karena dianggap mencemarkan nama baik dan dokter sebuah rumah sakit ternama di Serpong. Meski proses hukum belum berakhir, rasa keadilan publik telanjur terusik.

Ada getar rasa yang tidak terkata ketika penulis membaca cerita ”Keadilan Direcehkan, Koin Dikumpulkan” (Kompas, 8/12/2009). Rasa senada juga pernah hadir ketika dukungan atas Bibit-Candra meluas di jejaring sosial dunia maya.

Secara harfiah, pengumpulan receh memang dimaksudkan untuk membebaskan Prita dari hukuman dan beban finansial akibat tingginya denda yang harus dibayarkan. Namun secara implisit, gerakan ini sesungguhnya sarat makna. Ruh zaman (zeitgeist) yang harus dihadapi dalam konteks kekinian memang membenturkan kita dengan realitas sulitnya mencari keadilan. Hukum yang dikonstruksi di negeri ini enggan berpihak kepada rakyat kecil. Sebaliknya, secara telanjang hukum justru menunjukkan keberpihakannya kepada golongan tertentu.

Namun apa daya, publik tak kuasa menghadapinya. Masyarakat dihinggapi perasaan tak berdaya (powerless), pesimis, dan frustrasi menghadapi mandulnya hukum dalam mencipta keadilan. Hari ini Prita, esok, atas nama hukum, mungkin kita yang akan di-prita-kan. Koin receh adalah bentuk perlawanan dengan satire di tengah ketidakberdayaan, sekaligus adalah kanal nonagresi untuk meliberasi diri dari semua emosi, kejengkelan, dan ketegangan psikologis akibat keadilan yang tak tertegakkan. Sementara uang receh sengaja dipilih untuk menggambarkan begitu mudah dan murahnya keadilan itu dibeli. Sungguh, publik menantikan saatnya negara bisa berempati dan menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat, menyemai keadilan di seluruh penjuru negeri.

Selain itu, bentuk uang receh yang diadakan kepada prita memberikan kepada kita gambaran bahwa rasa empati masyarakat terhadap sesama pemeluk agama masih ada. Kepada sesamanya masyarakat masih memberikan rasa kasih sayang dan empati. Rasa keberpihakan masyarakat terhadap sesamanya yang sedang menghadapi masalah.

  1. FOKUS MASALAH

Permasalahan ketidakadilan yang melanda masyarakat beragama yang sudah tidak bisa dihadapi dihadapi dan diselesaikan oleh para penegak hukum memunculkan empati antar masyarakat keberagamaan. Ketidakadilan dimasyarakat akar rumput menyebabkan empati pada semua lapisan masyarakat yang bergerak untuk melawan ketidak adilan tersebut dengan cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat tersebut. Dalam kasus ini perlawanan terhadap ketidakadilan berbentuk pengumpulan koin sebagai symbol empati masyarakat keagamaan dalam melawan ketidakadilan yang terjadi.

  1. DEFINISI OPERASIONAL

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Keberagamaan adalah sikap seseorang atau kelompok untuk menganut suatu agama dengan mentaati aturan atau norma yang ada didalamnya. Serta ketentuan –ketentuannya. Baik itu yang berhubungan dengan Tuhannya atau dengan sesama manusia baik itu sama agama ataupun lain agama.

Perilaku ketidakadilan merupakan sebuah ketimpangan yang dilakukan oleh penguasa kepada rakyatnya yang tidak sesuai dengan norma-norma, aturan atau ketentuan yang ada disebuah Negara tersebut. Dan terjadinya ketidaksamaan dalam memperlakukan seseorang dihadapan hukum.

  1. KAJIAN PUSTAKA
  1. Ekspresi Keberagamaan

ekspresi adalah sebuah proyeksi dari keadaan diri atau sesuatu yang dirasakan oleh seseorang yang dimunculkan keluar diri. Semua makhluk hidup yang ada didalam dunia ini memiliki ekspresinya masing – masing sebagai symbol akan kondiri yang ada atau dirasakan oleh makhluk tersebut. Selain itu ekspresi menjadi sebuah pesan atau symbol komunikasi non-verbal yang dilontarkan oleh seseorang yang bisa dimaknai oleh orang lain.

Kemampuan manusia dalam berekspresi merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan. Bisa dibayangkan jika kita semua tidak memiliki ekspresi dalam berbahasa atau berkomunikasi dengan orang lain. Pastinya kita akan terjebak dalam lingkaran bahasa verbal yang bersifat kaku dan formalistic.

Keberagamaan merupakan sebuah sikap dimana manusia memasukkan kedalam sebuah agama atau beragama. Didalamnya dia menganut hukum – hukum, dan norma-norma serta aturan yang berlaku didalamnya. Keberagamaan tidak hanya berhubungan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya saja namun juga berhubungan dengan sesama manusia. Keberagamaan yang berhubungan dengan sesame manusia berbentuk konsolidasi antar umat beragama. Hubungan ini berlaku antar umat beragama.

Ekspresi keberagamaan merupakan symbol non-verbal yang dikeluarkan oleh masyarakar agama sebagai bahasa bersama dalam menyikapi sesuatu. Ekspresi keberagamaan merupakan sikap bersama dalam menghadapi suatu masalah bersama oleh semua umat manusia. Dalam hal ini semua manusia memiliki sikap yang sama dalam menghadapinya. Keberadaan ekspresi ini merupakan reaksi bersama terhadap masalah.

  1. Empati

Fenomena dukungan yang meluas di tengah masyarakat kepada pihak yang dipersepsikan sedang ditidakadili (dizalimi), seperti dalam kasus KPK dan Prita, adalah manifestasi rasa empati yang dimiliki publik.

Diksi empati berakar dari kata Yunani, empatheia, yang berarti ”ikut merasakan”. Awalnya, digunakan para teoretikus estetika untuk kemampuan memahami pengalaman subyektif orang lain. Empati melibatkan apa yang disebut sebagai pengambilan perspektif, yaitu sebuah kemampuan untuk mengambil alih secara spontan sudut pandang orang lain. Dalam konteks ini, individu mengubah pola diri secara imajinatif ke dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dari obyek empati.

Empati sesungguhnya adalah anugerah yang khas dimiliki manusia sebagai bagian dari rasa kamanungasan (sense of humaness). Tanpa empati yang tumbuh dan berakar kuat dalam diri, sesungguhnya kita telah terjerembab pada apa yang disebut Nick Haslam (2006) sebagai gejala dehumanisasi mekanistik.

Hati publik yang terketuk dalam kasus Prita adalah tanda hati yang masih memiliki empati. Secara imajinatif, publik memosisikan dirinya pada perasaan, pikiran, dan penderitaan seorang ibu rumah tangga, yang atas nama hukum dipaksa negara membayar ratusan juta, justru ketika ia menuntut haknya.

Empati itu lantas mengalirkan dukungan yang tidak sebatas pada pernyataan belaka, tetapi diikuti perilaku prososial berupa pengumpulan uang receh yang secara spontan dilakukan di beberapa kota di Indonesia.

Pengumpulan koin merupakan proyeksi dari sikap empati yang ada di dalam masyarakat Indonesia dan sebagai symbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi didalam masyarakat yang dilakukan oleh penguasa terhadap kalangan lemah. Dalam hal ini prita sebagai symbol masyarakat bawah yang ditindas oleh penguasa.

Stephen R. Covey (1999) mengingatkan kita untuk memahami implementasi makna empati secara benar. Kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk memahami dahulu, tetapi sebaliknya ingin dipahami dahulu posisi dan pemikiran kita. Atau jika kita ingin berusaha memahami, kita sering sibuk mempersiapkan tanggapan kita dan reaktif saat kita menyaksikan kejadian, menghadapi sikap atau mendengarkan pernyataan orang lain. Jadi, kita lebih sering mengevaluasi, menyarankan, menyelidiki, atau menerjemahkan dari sudut pandang kita sendiri sebelum memahami konsideran sikap dan peristiwa serta kesejatian masalah. Dan tidak satu pun dari ini adalah tanggapan empatik yang memahami. Semuanya berasal dari kesejatian diri kita, dunia kita dan nilai-nilai kita secara searah.

  1. Faktor Yang Mempengaruhi

Munculnya koin solidaritas untuk prita mulyasari memiliki factor – factor yang membentuknya, antara lain :

  • Ketimpangan social yaitu dimana adanya ketidaksamaan antara realitas yang ada dengan impian atau pandangan yang ada didalam masyarakat. Dimana seorang prita mulyasari yang merupakan rakyak kecil serasa ditindas oleh kekuasaaan yang ada.
  • Ketidakadilan hukum yang diberlakukan oleh para penegak hukum dimana seorang prita mulyasari yang hanya melakukan keluhan atas pelayanan dirumah sakit dihukum harus membayar denda sekian ratus juta sedangkan para koruptor yang sudah merugikan Negara ratusan milyar rupiah tidak dihukum dan masih bisa melenggang diluar dengan tenang.
  • Rasa empati masyarakat yang tinggi dalam merasakan penderitaan yang dirasakan oleh prita mulyasari.
  1. Pendekatan Penanganan Problem

Pendekatan yang dipakai dalam hal ini adalah bagaimana masalah diselesaikan dari akar masalahnya. Yaitu dimana masalah yang muncul tidak hanya dilihat dari simtom yang muncul dan diselesaikan simtomnya saja. Namun sebuah masalah dilihat secara menyeluruh dan komprehensif agar masalah yang ada tidak muncul lagi nanti.

  1. ANALISIS

Di mata dunia, sebenarnya bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dengan entitas kesetiakawanan sosial yang kental, tidak tega melihat sesamanya menderita. Kalau toh menderita, “harus” dirasakan bersama dengan tingkat kesadaran nurani yang tulus, bukan sesuatu yang dipaksakan dan direkayasa. Merasa senasib sepenanggungan dalam naungan “payung” kebesaran” religi, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. ltulah yang membuat bangsa lain menaruh hormat dan respek. Semangat “Tat twan Asi” (Aku adalah Engkau) –meminjam terminologi dalam ajaran Hindu–, telah mampu menahbiskan rasa setia kawan menjelma dan bernaung turba dalam dada bangsa kita, sehingga mampu hidup damai di tengah-tengah masyakarakat multikultur.

Namun, merebaknya “doktrin” konsumtivisme, agaknya telah telanjur menjadi sebuah kelatahan seiring merebaknya pola hidup materialistik dan hedonistis, yang melanda masyarakat modern. Manusia modern, menurut Hembing Wijayakusuma telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi yang lain. Kemajuan industri telah mengoptimalkan kekuatan mekanismenya, tetapi melemahkan kekuatan rohaninya. Manusia telah melengkapinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental dan telah meninggalkan hal-hal positif yang dibutuhkan bagi jiwanya. Akar-akar kerohanian sedang terbakar di tengah api hawa nafsu, keterasingan, kenistaan, dan ketidakseimbangan.

Akibat pemahaman pola hidup yang salah semacam itu, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan nurani dan moral serta religi. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika.

Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian. Fenomena tersebut jelas mengingkari makna kesetiakawanan sosial yang telah dibangun para founding fathers kita, mengotori kesucian darah jutaan rakyat yang telah menjadi “tumbal” bagi kemakmuran negeri ini.

Sikap yang sudah terjadi selama ini didalam kondisi bermasyarakat kita membuat sebagian masyarakat gerah. Terutama dalam model hukum kita. Banyak dari hukum kita yang dibolak balik oleh para penegak hukum. Dan juga dengan banyak dari cerita yang berkembang tentang mafia hukum yang ada menyebabkan sebagian dari masyarakat kita berontak untuk melawan.

Koin prita mulcul sebagai reaksi atas ketimpangan dan ketidakadilan yang muncul dalam masyrakat kita. Penanganan kasus ini tidak bisa setengah – setengah atau parsial saja. Supaya tidak terjadi lagi kejadian yang serupa.

  1. TEMUAN BARU DARI HASIL ANALISIS

Dari hasil analisis diatas ditemukan bahwa :

  • Ketimpangan social yang terjadi dimasyarakat kita sekarang ini bisa mengakibatkan dampak sistemik yang sangat besar terhadap segala bidang. Baik itu social, politik keagamaan, atau psikologis.
  • Kesalahan dalam mensikapi sesuatu bisa mengakibatkan perlawanan dari masyarakat akar rumput.
  • Rasa empari masyarakat keberagamaan bisa memberikan pengaruh yang signifikan kepada keafaan yang ada
  • Kekuatan masyarakat (people power) dapat berubah menjadi kekuatan yang sangat ditakuti.
  1. REKOMENDASI

Rekomendasi yang dapat diberikan darihasil kajian diatas yaitu :

  1. Penegakan hukum harus sesuai dengan jalur yang ada dan semua harus disamakan kedudukannya didepan hukum.
  2. Ketimpangan – ketimpangan hukum yang sudah terjadi harus segera diselesaikan atar tidak menjadi bibit yang bisa memmicu reaksi masyarakat yang besar. ‘
  3. Peningkatan rasa empati pada masyarakat harus dipupuk agar kerekatan masyarakat tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s