Posted in Human Capital

DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DENGAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN


Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan mulus. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa individu harus berpisah dari keluarga karena suatu alasan, menjadi yatim, piatu atau yatim-piatu bahkan mungkin menjadi anak terlantar. Kondisi ini menyebabkan adanya ketidak lengkapan di dalam suatu keluarga. Ketidak lengkapan ini pada kenyataanya secara fisik tidak mungkin lagi dapat digantikan tetapi secara psikologis dapat dilakukan dengan diciptakannya situasi kekeluargaan dan hadirnya tokoh-tokoh yang dapat berfungsi sebagai pengganti orang tua (Yuniawati, 2003).

Selain kasih sayang, pada remaja juga terdapat kebutuhan dukungan social demi terwujudnya kebermaknaan hidup yang positif. Menurut Hurlock (1997) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan, remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Remaja sebagai bagian dari generasi penerus yang menjadi tonggak sebagai individu yang bermakna pada hari kemudian diharapkan juga memiliki makna kehidupan yang tinggi, makna hidup yang positif karena makna hidup yang positif sangat diperlukan bagi setiap orang dalam menjalani kehidupannya, sehingga di peroleh suatu kebermaknaan hidup yang lebih bermakna agar perjalanan hidupnya tidak menjadi sia-sia.

Menurut Frankel (Kartono, 1992) kebermaknaan hidup adalah keadaan yang menunjukkan sejauh mana seseorang telah mengalami dan menghayati kepentingan kebermaknaan hidupnya menurut sudut pandang dirinya sendiri. Kebermaknaan hidup akan muncul ketika individu memulai pematangan spiritual, yaitu pada masa pubertas, apabila motivasi hidup bermakna ini terpenuhi, maka individu akan merasakan kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, bila hasrat hidup bermakna ini tidak dapat terpenuhi, maka individu akan

mengalami kehidupan tanpa makna. Lebih lanjut Frankel (Sudarto, 2001) mengemukakan bahwa makna hidup

harus dicari dan ditemukan oleh individu. Melalui berbagai keputusan yang dipilih, seseorang memiliki kemampuan yang timbul dari dalam dirinya untuk mencari dan menghayati makna yang ada dalam hidupnya. Oleh karena itu, individu tidak bisa menjauhi keputusan atas sikap dan pilihannya. Kenyataan ketidak mampuan ini telah mendorong individu untuk membuat keputusan dalam menentukan sikap terhadap kenyataan dan keadaan yang dipilihnya. Dijelaskan pula oleh Koeswara dan Gilingan (Sudarto, 2001) Pada giliranya, keputusan individu itu dapat mengubah dirinya sendiri, karena tidak ada seorangpun yang dapat memaksakan sesuatu pada dirinya.

Konsep makna hidup menurut Budiharjo (Sudarto, 2001) berarti hal-hal yang memberikan arti khusus bagi seseorang yang apabila dipenuhi, akan menyebabkan kehidupan yang dirasakan menjadi berarti dan berharga, sehingga akan menimbulkan penghayatan bahagia. Makna merupakan bagian dari kenyataan yang dapat dijumpai di dalam setiap kehidupan. Oleh karena itu, makna hidup dapat berubah-ubah dari satu momen kemomen yang lain. Frankel (2003) makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, tetapi hanya dapat dipenuhi jika dicari dan dipenuhi oleh diri sendiri.

Salah satu cara rasional yang dapat diberikan untuk situasi-situasi yang sangat buruk, dimana seseorang tidak mampu untuk mengubah atau menghindarinya adalah dengan menerimanya. Penerimaan dapat menghantarkan seseorang kepada makna. Makna hidup memberi suatu maksud bagi keberadaan seseorang dan memberi seseorang kepada suatu tujuan untuk semakin menjadi manusia sepenuhnya. Schultz (Sudarto, 2001) keberadaan manusia adalah bagaimana caranya dalam menerima nasib dan keberaniannya dalam menahan penderitaan. Frankel (2003) percaya bahwa makna dapat ditemukan dalam semua situasi, termasuk dalam penderiaan. Menurutnya, hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan makna dalam penderitaan ialah tetap hidup.

Menurut Bastaman (Wiyanti, 2002) ada beberapa komponen yang menentukan berhasilnya perubahan, dari penghayatan hidup tidak bermakna menjadi bermakna adalah pemahaman diri, makna hidup, pengubahan sikap, keikatan diri, kegiatan terarah serta dukungan sosial pada saat yang diperlukan.

Kebermaknaan hidup memiliki tiga nilai yang dapat mempengaruhi kebermaknaan hidup seseorang diantaranya melakukan suatu perbuatan, mengalami sebuah nilai, dan sikap individu tersebut terhadap penderitaan. Mappiere (1982) mengatakan bahwa kebutuhan yang terpenting bagi remaja adalah kebutuhan akan pengakuan, perhatian dan kasih sayang. Tidak

terpenuhinya kebutuhan tersebut akan menyebabkan remaja mengalami hambatan dalam tugas selanjutnya, sebaliknya terpenuhinya kebutuhan psikis akan mambawa keberhasilan dalam perkembangan remaja. Selain kasih sayang pada remaja juga terdapat kebutuhan untuk memaknai hidupnya. Kebutuhan memaknai hidup ini di peroleh salah satunya dengan adanya dukungan sosial terutama dukungan teman sebaya, karena mereka sudah tidak memiliki keluarga inti.

Manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan yang tidak sedikit dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainya, kebutuhan-kebutuhan ini terpenuhi melalui kontak dengan lingkungannya, faktor lingkungan dalam hubungan sosial mempunyai peran yang sangat menentukan kepribadian seseorang. Seperti yang dijelaskan oleh Rasiman (Cahyaningtyas, 2002) bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan penghargaan dalam hubunganya dengan orang lain. Thoist (1986) mengatakan bahwa dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang memiliki hubungan yangberarti bagi individu seperti keluarga, teman dekat, pasanagn hidup, rekan kerja, tetanga dan saudara.

Teman dekat menurut Kail dan Reilson (Rohani, 1999) merupakan sumber dukungan sosial karena dapat memberikan rasa senang dan dukungan selama mengalami suatu permasalahan. Bergaul dengan teman sebaya merupakan bantuan dari seseorang yang kemudian diberikan kepada orang lain yang berusia kurang lebih sama, dimana dukungan tersebut bertujuan memberikan motifasi atau menimbulkan minat dalam diri seseorang ketika melakukan kegiatan (Widiastuti, 2004).

Dukungan sosial diperoleh dari teman atau persahabatan. Teman memiliki peran yang sangat penting, mereka harus memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih pada sesamanya, juga dari orang-orang yang paling dekat pada anakanak panti asuhan tersebut sehinga mereka tidak mempunyai perasaan terbuang atau tersingkir dari lingkunganya (Mangunsong, 1998).

Di tengah lingkungan teman sebaya/kelompok, pada umumnya remaja dapat merasakan perasaan aman terlindungi, terutama bagi remaja panti asuhan dimana mereka tidak memiliki keluarga inti, sebab di tengah teman sebaya kelompok remaja tersebut merasa mendapatkan posisi. Agar dapat serasi dan dapat diterima serta rasa setia kawan dalam pergaulan dengan teman sebaya inilah seorang remaja akan dapat dengan mudah dipengaruhi oleh bujukan atau dorongan teman dalam kelompok, remaja akan melakukan tindakan yang positif atau negatif.

Apabila remaja tidak memenuhi bujukan atau tindakan yang dinginkan oleh teman, maka akan dikeluarkan oleh lingkungan kelompok dan dianggap sebagai anggota yang tidak memiliki rasa setia kawan. Widiastuti (Widiastuti, 2004) juga menjelaskan bahwa kegiatan yang positif seperti rajin dalam belajar secara kelompok, mendatangi pameran pembangunan dan kegiatan olah raga secara langsung akan membawa dampak yang lebih baik bagi perkembangan remaja. Akan tetapi apabila kegiatan yang dilaksanakan dalam kelompok merupakan kegiatan yang negatif, misalnya judi, mabuk-mabukan maka akan berakibat buruk pada remaja yang bersangkutan.

Dukungan teman sebaya sebagai hubungan antar pribadi di dalamnya terdapat satu atau lebih ciri-ciri antara lain bantuan atau pertolongan dalam bentuk fisik, perhatian emosional, pemberian informasi dan pujian (Etzion, 1984). Pengaruh lingkungan kelompok maupun lingkungan pergaulan umumnya memiliki peranan yang sangat besar.

Hubungan dengan teman sebaya sebagai bentuk untuk memperoleh dukungan, memiliki arti penting bagi terciptanya dukungan dari teman sebaya, diantaranya dimilikinya perhatian atau minat yang bervariasi dan tetap, pencarian status dalam pergaulan dengan teman sebayanya, adanya suatu keinginan untuk mengidentifikasikan diri dengan kelompoknya, kemauanya menerima berbagai macam kegiatan dalam berbagai kesempatan untuk hubungan sosial (Soelaeman, 1995).

Tidak adanya dukungan dari teman/sahabat atau dari lingkunganya akan menjadikan anak panti asuhan selalu berfikir negatif, apalagi jika ditambah dengan anggapan negatif dari lingkungan atau masyarakat, sehingga dapat menimbulkan kecemasan ketika melakukan interaksi dengan orang lain. Adanya dukungan teman sebaya berupa penerimaan yang diperolah dari pergaulan dapat menimbulkan rasa kebermaknan hidup pada individu (Mangunsong, 1998)

Permasalahan yang semakin kompleks dalam kehidupan manusia terutama pada remaja dan khususnya pada remaja yang tinggal dalam panti asuhan. Melalui dukungan teman sebaya yang diberikan kepada tiap individu dimana salah satunya bertujuan untuk membentuk tindakan untuk memaknai kehidupan melalui diri sendiri, namun pada pelaksanaanya mereka tidak atau kurang mendapatkan dukungan teman sebaya tidak sedikit pula untuk tidak memaknai kehidupannya dengan baik. Dari fenomena yang terjadi bahwa remaja yang tinggal dalam panti asuhan sering mempunyai perasan bahwa dirinya tidak seperti anak-anak lain dalam status pergaulannya sebagai anak panti asuhan. Adanya teman/sahabat yang diperoleh di panti asuhan atau dari lingkungan sekitar, tidak selamanya dapat membantu perkembangan kepribadian dan jiwa remaja. Hal ini cenderurng mengakibatkan kemunduran-kemunduran dan akan berdampak pada penyesuaian diri pada anak-anak yatim-piatu (Bastaman. 2001).

Remaja yang tinggal di panti asuhan mempunyai rasa rendah diri atau minder terhadap keadaan dirinya, tidak seperti teman-teman dalam kondisi keluarga normal. Hal ini berpengaruh terhadap pergaulan dengan lingkungan. Sementara itu masyarakat atau teman-teman dalam lingkungan sosial sering memberikan label negatif pada anak-anak panti asuhan tanpa melihat lebih jauh, mengapa atau bagaimana berbagai hal negatif ini akan terjadi. Adanya penyimpangan antara harapan dan kenyataan itulah, maka peneliti merasa perlu untuk meneliti hal tersebut.

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s