Posted in Relationship

Pohon, Pencerahan Dan Pemimpin


Pohon, Pencerahan Dan PemimpinSudah menjadi persoalan kebanyakan orang, kalau tubuh dan jiwa ini tidak sepenuhnya bisa dimengerti. Tanpa aba-aba yang jelas, tiba-tiba mood menurun demikian drastis. Ketika siklus naik, tawa temannya. Tatkala siklus menurun, tangislah sahabatnya. Maka tidak sedikit orang yang hidupnya lelah melalui siklus naik turun ini. Bahkan saya punya dugaan, usia manusia yang jauh lebih pendek dibandingkan dengan usia alam, sebagian karena teramat lelah dipermainkan oleh siklus yang belum mengenal akhir ini.

Pernah ada rekan yang berandai-andai. Andaikan kita bisa mengeluarkan semua manusia dari bumi ini. Hasilnya bisa ditebak, masalah akan menurun dalam jumlah yang teramat banyak, bahkan ada yang menduga bahwa masalah tidak akan ada. Ini semua berarti, sebagian besar masalah yang ada bersumber pada manusia itu sendiri. Terutama karena keserakahan kita untuk senantiasa memilih dan memilih. Hanya mau sukses, tidak mau gagal. Hanya menerima cantik, monolak kejelekan. Hanya menerima kebaikan orang, antipati pada kejelekan orang. Dan masih banyak lagi keserakahan sejenis.

Berbeda dengan manusia yang cenderung ‘serakah’ memilih, alam tidak memiliki keserakahan model terakhir. Pohon sebagai contoh, ia tidak hanya menaungi para kiai, pastur dan pendeta. Penjahat yang paling jahatpun akan dinaungi pohon. Demikian juga dengan laut. Setiap barang dan air yang datang hanya diterima dan diterima. Tidak perduli, apakah ia bersih atau kotor, ia berbau harum atau berbau busuk.. Semuanya diterima tanpa kemewahan dan keserakahan memlilih sebagaimana manusia. Mata hari apa lagi. Dari tahi kambing sampai wanita cantikpun disinari dengan kadar yang sama.

Sejumlah orang bertanya ke saya, adakah kehidupan di luar sukses-gagal, sedih-bahagia, cantik-jelek dan dikotomi lainnya ? Ada juga yang bertanya, bukankah tanpa sukses-gagal, cantik-jelek kehidupan akan menjadi demikian tawar dan hambar ?

Maafkan saya pada rekan-rekan yang pernah bertanya tentang soal ini. Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan di atas mengindikasikan secara kuat bahwa kita masih demikian terkondisikan oleh keserakahan dan kemewahan memilih di atas. Sampai-sampai ragu tentang ada tidaknya kehidupan di luar pilihan-pilihan tadi, atau memberi stempel hambar dan tawar akan kehidupan di luar dikotomi.

Mudah-mudahan saya benar, kondisi jiwa yang tercerahkan hanya akan dimiliki oleh siapa saja yang berhasil membuang keserakahan dan kemewahannya untuk memilih tadi. Awalnya, terasa hambar memang. Namun, begitu kita berhasil bersahabat dengan sukses-gagal, sedih-bahagia, cantik-jelek, maka keheningan akan datang berkunjung dalam waktu yang lama. Lebih dari itu, kita tidak lagi ‘dipermainkan’ oleh kehidupan. Sebaliknya, kita sendiri yang mengelola dan mempermainkan kehidupan.

Dunia pemimpin dan kepemimpinan juga serupa. Siapa saja pemimpin yang ‘manja’ hanya mengelilingi dirinya dengan kroni, orang sepaham, sealiran dan bisa ditaklukkan. Bisa diramalkan, kepemimpinannya akan rapuh. Mirip dengan jiwa yang rapuh dipermainkan kehidupan, pemimpin jenis terakhir juga pasti dipermainkan orang dan kecenderungan. Sebab, pemimpin di tingkat manapun, akan senantiasa dihadang oleh orang dan kecenderungan yang amat beragam. Penyeragaman ala kronisme, atau cara pandang yang dipaksakan harus sama dengan sang pemimpin, hanya akan memperkosa perbedaan-perbedaan yang sebenarnya menjadi akar keindahan. Esensinya, tidak hanya jiwa yang membutuhkan pencerahan saja yang perlu membuang kemewahan memilih ala manusia, pemimpinpun sebaiknya memaksa diri untuk tidak manja dengan kemewahan memilih ini.

Digabung menjadi satu, siapapun manusianya, kalau masih dibelenggu keserakahan untuk memilih, maka ia akan senantiasa dipermainkan oleh kehidupan. Di titik inilah, kita perlu banyak belajar dari pohon, laut dan matahari yang hidup nyaman karena tidak memilih.

Sayangnya pengkondisian – oleh pengalaman, pendidikan, agama, aliran budaya, dll – yang sudah demikian kuat dan mengakar, membuat seluruh upaya untuk menjadi manusia yang tidak memilih, menjadi tidak mudah. Fanatisme di setiap agama terjadi. Pandangan sempit yang merendahkan orang lain, hadir di setiap cabang pengetahuan. Kecenderung untuk merasa lebih benar dibandingkan orang lain, ada di setiap kaki langit. Bahkan, ada yang berani mengorbankan hidup orang lain (contoh : perang, cerai, menyengsarakan rakyat dan karyawan bawah) sebagai tindak lanjut dari keyakinan ‘benar’ tadi. Ini semua menunjukkan, betapa amat kuatnya manusia terkondisikan oleh pengalaman, pendidikan, agama, aliran, budaya dan sejenisnya.

Sehingga terciptalah kehidupan, di mana menjadi manusia yang tidak dimanjakan oleh pilihan, menjadi sesuatu yang sulit dan mewah. Bahkan banyak orang bertutur ke saya, bahwa itu semua tidak mungkin, tidak enak, hambar tanpa rasa, dan sebutan sejenis.

Entah bagaimana Anda mengisi dan memperbaiki hidup Anda. Yang jelas, dalam banyak keadaan, saya menemukan tidak sedikit kedamaian dengan membuang kemewahan dan keserakahan manusia untuk senantiasa memilih. Berat memang, terutama karena faktor pengkondisian di atas. Hambar juga pada awalnya, sebab lama dibuat nikmat oleh kemewahan tadi. Akan tetapi, begitu ia menjadi kebiasaan, maka apa yang disebut pencerahan dan kedamaian, bukanlah sebuah barang yang langka. Dan memimpinpun bukanlah perkara yang terlalu sulit.

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s