Lengkungan Yang Meluruskan SemuanyaKendatipun lahir dan dibesarkan di Bali, saya terus menerus dihinggapi kerinduan akan pulau kecil ini. Tidak hanya karena memiliki Ibu tercinta yang masih segar bugar di kampung, tidak juga karena diwariskan beberapa petak tanah oleh orang tua, namun karena senyum orang-orang Bali yang khas. Memasuki beberapa toko kecil di Ubud sana, selalu disambut oleh senyum. Berjalan di antara perumahan di kampung, senantiasa dimanjakan oleh senyuman orang. Apa lagi kalau datang menemui sahabat-sahabat di masa kecil. Tidak hanya tawa dan nostalgia, namun senyum yang khas itu.

Dulu, ketika saya melanjutkan sekolah di salah satu kota kecil Inggris dan Prancis, mereka juga murah senyum. Di kota kecil Lancaster ( dekat Preston Inggris), lebih-lebih di desanya yang bernama Galgate, hampir di setiap pojokan ruang publiknya dahadiri senyuman orang. Demikian juga dengan kota kecil Fontainebleau (sekitar empat puluh lima menit perjalanan kereta api dari Paris Prancis). Memasuki toko tanpa senyum dan ucapan selamat pagi/siang/sore dalam bahasa Prancis, sama saja mau disebut barbar.

Entah sudah ada yang melakukan riset atau belum, yang jelas di tempat-tempat yang dibanjiri senyum, angka-angka penyakit sosial teramat sedikit. Sebut saja pencurian, perceraian, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan sejenisnya. Di kampung saya di Bali sana, hanya teramat sedikit pasangan yang memiliki akta pernikahan. Saya dan isteri termasuk dalam hal ini. Baru mencari akta pernikahan, ketika mau berangkat sekolah ke negeri orang. Sebab, menjadi persyaratan yang diharuskan. Akan tetapi, angka perceraian di sana amat dan teramat kecil.

Di Fontainebleau Prancis, suara sirene amat dan teramat jarang terdengar mengganggu jalanan. Demikian juga di kota kecil Lancaster Inggris. Yang namanya polisi disamping jumlahnya sedikit, juga jarang sekali kelihatan. Kalaupun kelihatan, mereka tampil amat bersahabat. Isteri saya termasuk orang yang kadang dibantu polisi membawakan barang berat sampai di halte bus.

Demikian juga melihat orang-orang yang membawa pisau, kapak, parang dan sejenisnya. Di danau-danau senyuman tadi, tidak ada rasa takut menyaksikan manusia berkapak dan berparang. Akan tetapi, di Jakarta, London dan Paris, bukankah orang akan minggir atau lari ketakutan melihat orang yang membawa parang ? Jangankan membawa parang, tanpa alat apapun, termasuk orang tersenyum sekalipun mudah sekali memproduksi kecurigaan. Jangan tanya saya angka penyakit sosial. Di Jakarta ini, jumlah kejahatan tidak bisa dihitung aparat karena demikian banyaknya.

Banyak orang menyandang pertanyaan, ada apa dengan kota-kota besar yang demikian sarat dengan penyakit sosial ? Dengan tiada maksud untuk menambah teori yang sudah banyak dilemparkan ke permukaan, saya ingin berbagai catatan dalam hal ini.

Dalam sebuah kesempatan, seorang guru Zen pernah berucap : “jangan mencari kebenaran, buanglah pendapat-pendapat Anda”. Dan pengalaman saya bertutur, di tempat-tempat yang dibanjiri senyuman, orang dibebani oleh jauh lebih sedikit pendapat. Di desa kecil Galgate, orang melihat kita tidak dengan pendapat atau kerangka seperti akan ditipu, akan dirampok, akan dicuri. Demikian juga dengan penjaga-penjaga toko di Fontaineblueau, Ubud atau Tampaksiring sana. Dengan sedikit pendapat (terutama yang negatif) tentang orang lain, tidak mengherankan kalau senyum mereka terasa amat lain.

Salah seorang sahabat saya di Surabaya sana, meninggalkan pesan yang amat menarik di voice mail-nya. Entah di mana dia mengutip, setiap kali telepon genggamnya sibuk atau lagi tidak aktif, saya mendengar suaranya seperti ini : “Senyuman adalah lengkungan yang meluruskan semuanya”. Pertama kali saya mendengar suara ini, tidak ada sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, melewati perjalanan refleksi di atas, saya memahami pendapat rekan ini secara jauh lebih dalam.

Rupanya, di tempat-tempat yang ditandai oleh banyak danau senyuman, suasananya tidak hanya membuat rindu, melainkan segala hal yang bengkok dan tidak lurus, mudah sekali diluruskan. Perhatikan saja, di Jakarta ini uang sekian ratus rupiah bisa membuat nyawa melayang. Anting-anting kecil, bisa membuat daun telinga anak kecil robek. Di London sana, bom meledak tidak semuanya disebabkan oleh hal-hal besar. Sebagian malah disebabkan oleh hal-hal kecil dan sepele. Namun, di tempat di mana senyuman itu teramat murah, ada banyak pertengkaran suami isteri yang tidak berakhir dengan perceraian. Ada tidak sedikit perbedaan agama yang justru bisa mempererat.

Di Bali utara tempat saya lahir, dan terkenal dengan penduduknya yang mayoritas beragama Hindu, ada sebuah desa yang semua penduduknya muslim. Desa ini bernama Pegayaman. Sama dengan desa lainnya yang bermandikan senyum, di sini orang-orang hidup dan melaksanakan ibadah agamanya tanpa gangguan berarti. Mesjid di desa ini dan Pura di desa sebelahnya sama-sama melaksanakan ibadahnya secara damai. Ketika hari raya nyepi dan takbiran datang bersamaan, kedua umat beragama ini bisa menyelesaikan perbedaannya secara damai. Umat Hindu tetap nyepi, umat Islam tetap melakukan takbiran, kendati tanpa pengeras suara di masjid.

Bukankah itu semua dipermudah dan dimungkinkan oleh lengkungan yang membuat lurus semuanya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s