Aspek – aspek hardiness :

Menurut kobasa (1994) setiap Kepribadian tahan banting disusun atas teori-teori dari para ahli psikologi eksistensial yang menekankan kehidupan yang otentik, teori kompetisi dari White dan teori tentang orientasi produktif dari Allport.

1. Control

Individu dapat mengontrol atau mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang dialami dengan pengalaman. Individu yang memiliki kontol kuat akan selalu optimis dalam menghadapi hal-hal diluar individu. Individu akan cenderung berhasil dalam menghadapi masalah. Powerlessness adalah perasaan pasif dan merasa akan selalu ditakuti akan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh individu. Kurang inisiatif dan kurang merasakan adanya sumber-sumber dari diri individu sehingga marasa tidak berdaya jika berhadapan dengan hal yang menimbulkan ketegangan. Meliputi:
• Kontrol pada keputusan yang diambil. Individu memiliki kontrol akan mampu secara mandiri memilih cara mengatasi stres.

• Kognitif individu untuk mampu menginterpretasi, meneliti, dan menghubungkan berbagai peristiwa yang menimbulkan stres, menjadi suatu rencana hidup yang terus berjalan.

• Kemampuan coping. Individu mampu mengadakan pengulangan respon yang tepat terhadap situasi. Biasanya disertai dengan motif untuk berprestasi di segala situasi.

2. Comitment

Kemampuan untuk dapat terlibat mendalam terhadap aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan individu dalam kehidupan individu tersebut. Individu yang memiliki komitmen memiliki kepercayaan yang dapat dirasakan dari peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres. Hal ini akan mencegah hilangnya kontak dengan diri individu sendiri, masuk dalam keadaan yang sangat tertekan individu tersebut mampu merasakan keterlibatan individu dengan orang lain yang bertindak sebagai sumber pertahanan yang digeneralisir untuk melawan pengaruh stres. Adapun individu yang terasis (alienation) biasanya mudah bosan terhadap tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh individu tersebut. Individu merasa tidak berarti dan selanjutnya menarik diri.

3. Tantangan (challenge)

Kecenderungan untuk memandang suatu perubahan yang terjadi dalam hidup individu sebagi suatu perubahan yang terjadi dalam hidup individu sebagai sesuatu yang wajar. Perubahan tersebut dapat diantisipasi sebagai suatu stimulasi yang berguna bagi perkembangan diri individu. Individu yang mempunyai karaker challege cenderung hidup sebagai suatu tantangan yang menyenangkan dan dinamis, serta mempunyai kemauan untuk maju. Individu seperti ini akan tetap lebih melihat daripada individu yang memandang perubahan sebagai suatu ancaman.

Manfaat Hardiness :

Wahyu Rahardjo dalam laporan penelitiannya mengenai ketabahan hati (2005) merangkum dari berbagai literatur, dan menuliskan adanya tujuh fungsi ketabahan hati ini

1. Membantu dalam proses adaptasi Individu dengan ketabahan yang tinggi akan sangat terbantu dalam melakukan proses adaptasi terhadap hal-hal baru, sehingga stres yang ditimbulkan tidak banyak. Sebuah penelitian membuktikan bahwa etnis Cina Kanada yang tinggal di Toronto, yang memiliki ketabahan hati lebih tinggi, lebih mudah beradaptasi dan mengurangi efek kecemasan serta tetap memiliki harga diri yang tinggi ketika mengalami diskriminasi. Sebuah penelitian lain memiliki hasil yang senada, menunjukkan bahwa ketabahan hati dapat membantu penyesuaian diri remaja pria yang melakukan wajib militer.

2. Lebih memiliki toleransi terhadap frustrasi Sebuah penelitian terhadap dua kelompok mahasiswa, yaitu kelompok yang memiliki ketabahan hati tinggi dan yang rendah, menunjukkan bahwa mereka yang memiliki ketabahan hati tinggi menunjukkan tingkat frustrasi yang lebih rendah dibanding mereka yang ketabahan hatinya rendah.

Senada dengan hasil penelitian itu, penelitian lain menyimpulkan bahwa ketabahan hati dapat membantu mahasiswa untuk tidak berpikir akan melakukan bunuh diri ketika sedang stres dan putus asa.

3. Mengurangi akibat buruk dari stres Kobasa yang banyak meneliti ketabahan hati menyebutkan bahwa ketabahan hati sangat efektif berperan ketika terjadi periode stres dalam kehidupan seseorang. Demikian pula pernyataan beberapa tokoh lain. Hal ini dapat terjadi karena mereka tidak terlalu menganggap stres sebagai suatu ancaman.

4. Mengurangi kemungkinan terjadinya burnout Burnout, yaitu situasi kehilangan kontrol pribadi karena terlalu besarnya tekanan pekerjaan terhadap diri, sangat rentan dialami oleh pekerja-pekerja emergency seperti perawat dsb. yang memiliki beban kerja tinggi. Untuk individu yang memiliki beban kerja tinggi, ketabahan hati sangat dibutuhkan untuk mengurangi burnout yang sangat mungkin timbul. Sebuah penelitian memberikan hasil yang sesuai dengan pernyataan itu, yaitu perawat yang memiliki ketabahan hati tinggi, ternyata lebih sulit mengalami burnout dibanding perawat yang ketabahan hatinya rendah.

5. Mengurangi penilaian negatif terhadap suatu kejadian atau keadaan yang dirasa mengancam dan meningkatkan pengharapan untuk melakukan coping yang berhasil Coping adalah penyesuaian secara kognitif dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik, bertoleransi terhadap tuntutan internal dan eksternal yang terdapat dalam situasi stres. Ketabahan hati membuat individu dapat melakukan coping yang cocok dengan masalah yang sedang dihadapi. Individu dengan ketabahan hati tinggi cenderung memandang situasi yang menyebabkan stres sebagai hal positif, dan karena itu mereka dapat lebih jernih dalam menentukan coping yang sesuai.

Pernyataan dari Schult & Schult (1994) tersebut didukung oleh sebuah penelitian terhadap perawat yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki ketabahan hati tinggi lebih baik dalam memilih coping yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

6. Lebih sulit untuk jatuh sakit yang biasanya disebabkan oleh stres Ketabahan hati dapat menjaga individu untuk tetap sehat walaupun mengalami kejadian-kejadian yang penuh stres (Smet, 1994). Karena lebih tahan terhadap stres, individu juga akan lebih sehat dan tidak mudah jatuh sakit karena caranya menghadapi stres lebih baik dibanding individu yang ketabahan hatinya rendah (Cooper dkk, 1998).
7. Membantu individu untuk melihat kesempatan lebih jernih sebagai suatu latihan untuk mengambil keputusan. Kobasa & Pucetti (1983) menyatakan bahwa ketabahan hati dapat membantu individu untuk melihat kesempatan lebih jernih sebagai suatu latihan untuk mengambil keputusan, baik dalam keadaan stres ataupun tidak.

Iklan

6 tanggapan untuk “Hardiness part 2

  1. assalamualaikum…bs minta tolong,referensi lengkap dari buku psikologi kesehatan yang ada materi hardinessnya??
    dan saya juga butuh teman untuk diajak sharing tentang hardiness….makasi sebelumnya.:)

  2. assalamualaikum.
    terimakasih atas tulisannya itu sangat membantu dalam memahami mengenai hardiness.
    boleh minta CP untuk saya ajak berdiskusi mengenai hardiness, karena insyallah skripsi saya akan membahas mengenai hardiness juga, dan kebetulan teori yang saya temukan hanya dari suzanne kobasa saja. barangkali anda memiliki refrensi lain.
    terimakasih atas perhatiannya.
    semoga kita bisa berdiskusi lebih lanjut :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s