Posted in Education

Analisa Perilaku Remaja dalam Menggunakan Obat-Obatan Terlaran


  • Kasus

Seorang remaja yang telah lama mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Berbagai jenis obat-obatan terlarang yang telah dikonsumsi remaja tersebut di antaranya ganja, cimeng, kancing, shabu-shabu, lexotan, lele, dan lain-lain. Dan parahnya remaja tersebut juga mengkonsumsi narkoba jenis suntik yaitu putaw. Takut mati kkarena putaw selain harganya yang mahal, remaja tersebut beralih mengkonsumsi sobutex. Cara mengkonsumsi sobutex yaitu dengan cara dioral, akan tetapi oleh kebanyakan remaja yang menggunakan putaw, cara yang mereka gunakan untuk mengkonsumsi sobutex yaitu dengan disuntikkan.

Sobutex adalah obat yang termasuk dalam kategori obat keras gol.G sehingga obat ini hanya bisa didapat dengan memakai resep dokter. Obat ini berbentuk tablet sublingual 8 mg x 7 dengan harga jual cukup mahal, yaitu Rp 477.980 per kemasan.

Sobutex sangat mengikat kuat ke reseptor, membuat dampak methadone dan heroin akan menjadi kecil atau tidak berdampak sama sekali. Obat ini umumnya digunakan untuk program perawatan narkotik dan di resepkan dengan dosis berbeda. Dampak dari subutex tak sebanyak dari opiate yang lain, memberikan perasaan “normal” kepada seseorang.

  • Analisa Perilaku Remaja dalam Menggunakan Obat-Obatan Terlarang

Gangguan pada remaja memilki spectrum yang luas. Gangguannya bervariasi dalam hal tingkat keparahannya dan tingkat perkembangan remaja, jenis kelamin dan kelas sosial. Beberapa gangguan cenderung muncul pada salah satu tingkat perkembangan dan bukan pada tingkat perkembangan lainnya. Misalnya, suatu penelitian mengatakan bahwa depresi, tingkah laku membolos, dan penyalahgunaan obat terlarang lebih umum muncul pada remaja yang lebih tua, sementara bertengkar, berkelahi dan berbicara dengan suara keras lebih banyak muncul pada remaja yang lebih muda. Remaja yang memiliki latar belakang kelas sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung lebih bermasalah dari pada remaja dengan latarbelakang ekonomi tinggi.

Pada awalnya remaja hanya termasuk salah satu pengguna narkoba yaitu memakai narkoba hanya pada saat-saat tertentu. Kemudian ia menyalahgunaan narkoba. Ketika klien terus mengkonsumsi obat terlarang, obat itu sendiri memunculkan toleransi (tolerance), yang berarti bahwa jumlah obat-obatan yang lebih besar yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang sama, ketika pertama kali remaja menggunakan 5 miligram Valium, ia memperoleh hasil yanag sangat menenangkan, namun setelah ia mengkonsumsi pil yang sama setiap hari selama 6 bulan, maka ia akan membutuhkan 10 miligram untuk mendapatkan efek yang sama.

Kecanduan (addiction) terjadi ketika tubuh secara fisik mengalami ketergantungan pada obat-obatan. Ketika tubuh seorang remaja yang sudah mengalami kecanduan tidak diberi zat adiktif dalam dosis yang memasai, maka ia dikatakan mengalami putus zat atau withdraw. Putus zat (withdraw) adalah rasa sakit yang hebat dan tidak diinginkandan keinginan untuk memperoleh obat-obatan adiktif. Ketergantungan psikologis adalah kebutuhan psikologis untuk menggunakan obat terlarang, seperti ketika remaja menggunkan obat terlarang untuk membantu drinya menghadapi masalahnya atau tekanan dalam hidupnya. Baik kecanduan fisik atau psikologis pada remaja memainkan peranan yang sangat kuat dalam kehidupan remaja. Dan hal itu yang sedang terjadi kepada klien.

Jika dilihat mulai dari awal seseorang itu menggunakan obat-obatan terlarang, perilakunya tidak dapat dikategorikan sebagai prilaku abnormal. Hal itu dikarenakan sebelum mengngkonsumsi obat tersebut seseorang itu masih tergolong normal. Setelah ia menjadi ketergantungan terhadap obat tersebut, tingkah laku remaja pun akan berubah yang disebabkan oleh pengaruh dari obat-obatan tersebut. Dalam DSM perilaku penyalahgunaan obat-obatan terlarang dikategorikan sebagai sociophatic personality disturbance (gangguan kepribadian sosiopatik) yang sekarang disebut antisocial personality disorder (gangguan kepribadian antisocial). Disebut sebagai gangguan kepribadian antisosial karena secara fisik, psikis, maupun sosialnya menjadi terganggu. Di mana ia lebih senang hidup dengan kelompoknya, kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya. Dan jika hal itu terus-terusan berlangsung kepribadian seseorang tersebut dapat menjadi abnormal yang termasuk dalam kategori drug psychosis yaitu psikosis akibat obat.

Buprenorphine, nama dagangnya adalah Subutex, digunakan untuk perawatan ketergantungan narkotik (opiate). Biasanya dijual dalam bentuk pil dan digunakan dengan dilarutkan dibawah lidah. Subutex tak lain adalah obat golongan psikotropik yang penggunaannya berada dalam pengawasan dokter.Tujuan utamanya adalah mencegah gejala putus zat dari seseorang, dengan menstimulasi reseptor didalam otak. Subutex mempunyai reaksi yang lebih besar terhadap reseptor otak daripada obat-obatan yang lain seperti heroin dan methadone, menggantikan dan mengalihkan keinginan untuk menggunakan lagi.

Ketergantungan Subutex

Kalsifikasi sobutex sangat sedikit dari jenis opiate lain. Dan juga sangat mahal, dan menjadi mudah untuk didapat di black market. Faktor ini memberikan kontribusi dan memperkuat angka kecanduan terhadap subutex.

Sobutex seharusnya menjadi obat penangkal rasa sakit akibat withdraw dari putaw disalahgunakan cara pemakaiannya, sehingga ia menjadi ketergantungan terhadap sabutex dan bahayanya hampir sama dengan bahaya dari putaw. Hal itu dikarenakan untuk mendapatkan alternative menghindari putaw dengan sesuatu yang lebih aman tanpa diketahui efeknya terlebih dahulu. Sobutek dikatakan lebih aman dari pada putaw hal ini dikarenakan untuk mendapatkannya bisa lebih mudah dan sabutek bukan termasuk dalam jenis obat-obatan terlarang. Sobutek adalah obat yang dikeluarkan oleh dokter untuk menghadapi sakitnya putaw. Akan tetapi yang membahayakan adalah cara pemakaiannya yang salah.

Selama ini sobutex digunakan sebagai obat terapi substitusi heroin/putaw karena obat ini dari bahan sintetis yang mempunyai sifat seperti atau menyerupai heroin/putaw. “Kenyataan yang ada di jalanan Indonesia maupun dunia, subutex sudah banyak disalahgunakan untuk menghindari hukum,”

Efek samping sobutex, sobutex (buprenorphine) dapat menyebabkan ketergantungan. Jika penggunaan sobutex tiba-tiba dihentikan, seseorang dapat mengalami gejala putus zat dan/atau adanya keinginan kambuh lagi dan menggunakan obat-obatan adiktif kembali. Sobutex diatur dengan dosis harian 12mg sampai 16mg per hari. Penggunaan Sobutex tidak untuk sesekali. Ini digunakan untuk metode perawatan berkelanjutan dan akan berbahaya jika pemakaian diberhentikan terlalu cepat. Jika digunakan dengan obat-obatan yang lain (anti dpresan, alcohol, obat dokter, dll), dampaknya akan menjadi tinggi dan menyebabkan resiko pada kesehatan secara serius. Sobutex akan menyebabkan over dosis dan kematian, jika disuntikkan. Jangan menggunakan obat-obatan yang lain tanpa persetujuan petugas kesehatan saat menggunakan sobutex. Efek samping lain dari sobutex adalah rasa kantu, pusing, kelelahan, susah buang air, sakit kepala, mual/muntah, pernafasan yang tersendat, perubahan mental, perubahan mood (depresi), gangguan perut, gangguan hati, urine berwarna lebih kuning, mata menjadi kuning, masalah kulit, masalah penglihatan, kematian yang terjadi dari over dosis.

Tanda bahaya penyalahgunaan zat pada remaja, diantaranya adalah penurunan fungsi sosial dan akademik, perubahan dari fungsi sebelumnya, seperti perilaku menjadi agresif atau menarik diri dari interaksi keluarga, perubahan kepribadian dan toleransi yang rendah terhadap frustasi, berhubungan dengan remaja lain yang juga menggunakan zat, menyembunyikan atau berbohong tentang penggunaan zat.

Penyalahgunaan obat-obatan terlarang menurut Sunarwiyati S, termasuk dalam kenakalan remaja kategori kenakalan khusus. Perilaku mengkonsumsi obat oleh remaja, dilihat dari teori perkembangan yaitu remaja telah memasuki usia remaja awal pada kali pertama ia mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Pada awalnya, remaja tersebut hanya melakukan pemakaian isidentil (sekali-kali), ditinjau dari psikologi perkembangan disebabkan oleh beberapa faktor sehingga remaja tersebut mudah dirangsang untuk mengikuti jejak “sang pengedar”. Hal ini mudah dicapai oleh pengedar jika sasarannya remaja, meningat:

  1. Remaja yang berada dalam masa pembentukkan identitas, memperlihatkan adanya keinginan untuk mencoba-coba.
  2. Remaja dalam proses ingin berdiri sendiri memperlihatkan perilaku melawan orang tua dengan jalan memakai obat-obatan yang tidak wajar.
  3. Remaja yang berada dalam masa krisis identitas: perbedaan pendapat dengan orangtua tidak atau kurang komunikai antara orangtua dan remaja, remaja tidak dapat melaksanakan harapan orang tua, sebaliknya rangtua jug tidak memuaskan harapan remaja. Timbul kritik remaja terhadap lingkungan dan orangtua yang terlalu mencampuri “urusan” remaja.
  4. Keinginan menggabungkan diri dengan kelompok remaja member kesempatan dalam lingkungn remaja untuk memeprluas pemakaian obat-obatan tersebut: mereka saling merangsang dalam pemakaian, keinginan takut dan keinginan mematuhi dan tunduk pada kelompoknya dan lebih-lebih lagi tersedianya obat-obatan tersebut dalam kelmpok karena pengedar berada di antara mereka.

Pemakaian berlebih-lebihan dapat berakibat merusak tubuh dan kesehatan mental. Kemunduran mental dan terganggunya fungsi tubuh tidak mampu membuat  atau mencegah para pemakai dari pemakaian yang berlebihan.

Menurut beberapa pendekatan, perilaku pemakaian obat-obatan terlarang diakibatkan oleh:

  1. Bertitik tolak pada pandangan psikologi belajar dengan inti teori kndisioning yang mendasarkan pada pembisaan sesuatu tingkahlaku karena adanya tingkahlaku lain yang menyenangkan dan memuaskan. Kepuasan dan perasaan senang inilah memperkuat dan mendorong untuk mengulangi sesuatu tingkah laku sehingga ia akhirnya terbiasa melakukannya. Perasaan yang tidak enak akibat minum obat-obatan, dikalahkan dengan perasaan senang  bercampur pus. Dengan perasaan senang dan puas ia merasa terhindar dari perasaan takut, cemas, terkekang yang menambah kuatnya dorongan dan ketagihan.
  2. Berdasarkan pada pandangan sociocultural bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh kondisi sosial di mana individu tersebut berada. Remaja ini berada dalam pergaulan yang mayoritas pecandu seperti dirinya. Akan mudah baginya untuk terjerumus kembali ke dalam keadaan semula jika ia berada dalam lingkungan yang sama.
  3. Berdasarkan pandangan humanistik, lingkungan di mana remaja itu tinggal tidak mendukung proses aktualisasi dirinya.  Kebutuhan akan rasa kasih sayang atau psychological neednya kurang terpenuhi dalam lingkungan primernya. Sehingga remaja tersebut mencari rasa cintanya di lingkungan di mana ia mendapatkannya, yaitu bersama teman-temannya.
  4. Bertitik tolak pada pandangan psikoanalisa bahwa kesenangan atau energi libido dalam dirinya mampu ia dapatkan dengan mengkonsumsi abat-obatan tersebut. Obat-obatan terlarang mampu membawanya ke dalam alam bawah sadarnya, sehingga kesenangan-kesenangan yang tidak ia dapatkan dalam kesadarannya mampu ia dapatkan ketika ia mengkonsumsi obat-obatan tersebtu. Kesenangan yang ia dapatkan adalah kesenangan yang semu dan hanya berlangsung dalam waktu singkat.
  5. Bertitik tolak pada psikologi perkembangan telah kita lihat bagaimana perkembangan masa remaja dengan masa kritis identitas, perkembangan identitas, pelepasan diri dari orang tua, pembentukan kelompok remaja dengan semua sifat-sifat merupakan mangsa empuk bagi pemadatan.
  6. Bertitik tolak pada ilmu obat-obatan, maka obat-obatan tertentu memang memberikan perasaan enak. Dengan perasaan demikian dan dengan perasaan kebebasan diri maupun dengan kepuasan khayalannya, sebenarnya semua mrupakan kepalsuan belaka untuk dapat memecahkan suatu persoalan. Ketergantungan fisik dan psikis menyebabkan tuntutan tubuh dan jiwa untuk segera memperoleh obat-obatan itu.
  7. Berdasarkan pada psikologi kepribadian maka mereka yang sudah kecanduan akan obat-obatan biasanya telah mengalami riwayat hidup yang kurang menguntungkan dalam masa-masa perkembangan sebelumnya.
  8. Kurang kuatnya daya tahan terhadap kegagalan atau kekecewaan, kurang mampunya menyelesaikan persoalan mengatasi sedih, takut, cemas menyebabkan pelarian diri ke alam alunan dan buaian obat-obatan tersebut.

Penulis:

HR Practitioner II Trainer II Hypnotherapist II Penggiat Warung Kopi

5 thoughts on “Analisa Perilaku Remaja dalam Menggunakan Obat-Obatan Terlaran

    1. gampang.. tanggal cek darah saja.. nanti kan ketahuan cz zat2 narkoba yang pernah dikonsumsi akan mengendap dalam tubuh,, dan itu masih bisa dideteksi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s