Semangat Pagi semangat Kerja. Hari lebaran sudah usai dan semua orang kembali pada aktivitas normal kembali. hari lebaran selalu memiliki ceritanya masing2 suka, senang, sedih, gembira dan bahagia. Lebaran kemaren saya memiliki pengalaman yang cukup berharga. saya berkesempatan untuk bertemu dengan senior organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang masih mengalami masa2 tahun akhir masa pemerintahan Presiden Soekarno jadi umurnya sudah sangat tua namun memiliki ingatan yang cukup kuat. 

Namun, kali ini kita tidak bermaksud sharing tentang HMI Masa itu, tapi cerita lain setelah bapak (saya memanggilnya) selesai menjadi aktivis dan masuk dunia kerja dan menjadi seorang kepala personalia pada tahun 1977 – 1994, waktu dimana sistem tentang Human Resources (HR) belum secanggih sekarang. Banyak cerita yang disharingkan kepada saya dan berbagai macam hal. namun yang cukup menarik disharingkan adalah waktu beliau bekerja di perusahaan PMA (Jepang) di Karawang Pada waktu itu. dimana dia harus menjaga produktivitas yang dituntut oleh pihak manajemen disana kepada seluruh karyawannya. 

Ada 2 Kunci yang dilakukan diperusahaan tersebut untuk menjaga dan meningkatkan performance kinerja di perusahaan Jepang tersebut: 

Prinsip pertama, Semua karyawan yang akan bekerja harus sudah mendapatkan makanan yang cukup. Jadi semua karyawan yang akan bekerja harus sudah sarapan terlebih dahulu. dengan asumsi jika karyawan sebelum bekerja sudah cukup kenyang atau memiliki energi yang cukup, maka mereka akan mampu berkonsentrasi dan fokus dengan pekerjaanya.  Prinsip ini juga diterapkan kepada semua karyawan baik itu operator mesin, mekanik, staf atau manajer. Hasil dari penerapan ini mampu mendorong dan menjaga kinerja karyawan dalam bekerja. 

Prinsip Kedua, Jika ingin karyawan nyaman bekerja, harus memiliki keluarga yang baik. Perusahaan harus memastikan bahwa karyawan tersebut tidak memiliki masalah dalam keluargannya dan membuat karyawan fokus dengan pekerjannya. Jika karyawan tersebut memiliki masalah dengan keluarganya maka karyawan tidak akan fokus dalam bekerja dan kinerjanya bisa turun. Perusahaan berusaha membantu masalah yang ada tanpa bermaksud ikut campur dalam masalah orang lain. contoh, karyawan tersebut memiliki masalah tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya, maka perusahaan akan berusaha membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan mekanisme yang sesuai dengan peraturan yang ada di perusahaan. 

Mungkin dapat ditarik kesimpulan, bagi orang – orang yang mengurusi karyawan, alangkah arifnya kita tidak hanya menekan karyawan untuk berkinerja tinggi tapi tidak memperhatikan kondisi karyawan tersebut. alangkah arifnya jika kita balance untuk menjalankan sistem yang ada. Toh para pengelola HR juga sebagai karyawan, jadi sama2 akan merasakan apa yang akan dirasakan oleh karyawan yang lain. Cukup sekian semoga kita semua tambah sukses dan Semangat Pagi. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s